Infrastruktur adalah persyaratan utama dalam pembangunan ekonomi suatu
negara. Ketersediaan infrastruktur yang memadai akan berdampak pada
percepatan pembangunan suatu negara, baik dari sisi aspek ekonomi maupun
sosial. Kebutuhan infrastruktur, terutama jalan tol, membutuhkan anggaran yang
sangat besar. Disisi lain, kapasitas keuangan pemerintah untuk memenuhi
kebutuhan investasi infrastruktur sangat terbatas. Oleh karena itu, pemerintah
menyiapkan skema Kerjasama dengan Badan Usaha, Public Private Partnership
(PPP). Sebagai salah satu strategi untuk menyukseskan penugasan pemerintah
untuk membangun Jalan Tol Trans Sumatera, PT Hutama Marga Waskita diberi
mandat untuk membangun dan mengelola jalan tol di ruas Kuala Tanjung –
Parapat. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi kelayakan terlebih dahulu sebagai
dasar pertimbangan kebijakan dalam membuat Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol
(PPJT)
Dari hasil kajian yang kami lakukan di PT Hutama Marga Waskita, dan
berdasarkan data yang diperoleh, ruas jalan tol Kuala Tanjung- Parapat tidak
layak secara finansial dengan nilai IRR sebesar 9,77 % < Diskonto 10,54%.
Berdasarkan hasil penelitian ini, penelitian menganalisis upaya peningkatan hasil
investasi, yaitu dengan menggunakan 2 alternatif. Pertama dengan dukungan
keuangan fiskal dari pemerintah melalui skema Viability Gap Fund (VGF)
memperoleh nilai IRR sebesar 13,85%. Alternatif kedua yaitu kehadiran Kawasan
Kota Satelit, diperoleh nilai IRR sebesar 14,10 % > Diskonto 10,54%. Dalam
pelaksanaan pembangunan, tentunya akan timbul berbagai risiko, termasuk risiko
pembebasan lahan dan pembengkakan biaya konstruksi. Oleh karena itu,
manajemen risiko diperlukan untuk mengurangi dan meminimalkan risiko yang
mungkin terjadi. Dari hasil perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
investasi jalan tol Kuala Tanjung - Parapat dengan di dukung kota satelit akan
meningkatkan bangkitan lalu lintas, dimana hal ini berdampak pada peningkatan
Return on Investment jalan tol Kuala Tanjung-Parapat.
Perpustakaan Digital ITB