Semakin berkurangnya energi fosil seperti minyak dan batu bara mulai menjadi pembahasan
penting. Energi alternatif atau Energi Baru Terbarukan (EBT) dianggap sebagai solusi dalam
kelangkaan sumber daya energi. Indonesia berkomitmen mengedepankan EBT dalam bauran
energi nasional dibanding energi fosil. Hal tersebut terbukti di dalam Kebijakan Energi
Nasional yang menyebutkan Indonesia akan mencapai bauran EBT sebesar 23 % pada tahun
2025. Presentase tersebut merupakan merupakan batu loncatan yang harus dipenuhi sebelum
menuju sasaran yang sebenarnya. Yakni 31 % bauran EBT pada 2050. Namun sejauh ini
realisasi EBT masih sebesar 11,2 %.
PT Terregra Asia Energy (TGRA) adalah perusahaan energi baru terbarukan yang pertama kali
IPO di tahun 2017. Kegiatan usaha utama Perseroan ialah mendirikan dan mengoperasikan
pembangkit listrik berikut jaringan listriknya, penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan
umum, distribusi dan penjualan tenaga listrik, pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit
listrik. Fokus Terregra Asia Energy adalah pembangkitan tenaga listrik tenaga surya dan tenaga
air.
Pada tahun 2019 terjadi penurunan nilai saham yang sangat drastis, dari nilai tertingginya Rp.
900 pada 18 Oktober kemudian turun pada titik terendahnya di pertengahan 2020 yaitu hingga
Rp.67. Manajemen PT Terregra Asia Energy Tbk mengatakan, penurunan nilai pasar ini karena
anggapan pasar atas pedoman Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang saat itu menghentikan
kesepakatan (ketegangan) dua aset bersama milik PT Narada Aset Manajemen dengan aset
bersama Agen penjualan reksadana (Aperd) berdasarkan default perlindungan (default) saham
senilai Rp 177,78 miliar. Dari salah satu portofolio saham yang diawasi oleh Narada, ada saham
TGRA.
Hal tersebut menarik perhatian penulis untuk mengetahui nilai wajar dari saham TGRA apakah
turunnya nilai saham beriringan dengan turunnya performa perusahaan atau hanya murni sentimen pasar. Model valuasi absolut (DCF) akan menunjukkan nilai wajar saham TGRA pada akhir tahun 2020. Analisa sensitivitas dilakukan untuk memberikan rentang kepercayaan terhadap valuasi saham. Valuasi saham TGRA berdasarkan metode DCF adalah Rp 563, -. Dengan menjalankan simulasi Monte Carlo terhadap factor-faktor yang bersifat stokastik, pada tingkat kepastian 50%, valuasi saham akan berada pada rentang Rp. 288 and Rp. 791
Perpustakaan Digital ITB