digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Warren Buffett, Benjamin Graham, dan Peter Lynch adalah tiga dari “guru” investor yang mendunia yang berhasil membuktikan bahwa mereka berhasil mendapatkan imbal balik hasil investasi yang lebih tinggi dibandingkan pasar dengan metode yang berbasis value investing. Metode pembentukan portfolio yang mereka temukan adalah berdasarkan Analisa fundamental dan melakukan penyaringan beberapa emiten saham dengan menggunakan rasio financial dan kriteria lainnya yang mereka anggap penting dalam melakukan analisa suatu emiten saham. Di dalam project ini, Penulis melakukan riset dan studi untuk membuktikan apakah metode pembentukan portofolio investasi dengan metode yang telah dibuat oleh “guru” tersebut dapat diaplikasikan pada pasar saham di Indonesia dengan menggunakan pembobotan saham yang sama, melakukan back testing metode tersebut pada periode Mei 2012 sampai dengan Desember 2020, dan melakukan pengukuran, evaluasi dari setiap portfolio tersebut menggunakan rasio Sharpe, Treynor, dan Jensen’s alpha. Tipe portfolio yang dibentuk menggunakan kriteria Peter Lynch mempunyai rata-rata imbal balik hasil investasi tahunan yang paling tinggi yaitu 24.04 % atau kumulatif imbal balik investasi 613.05 %, sedangkan portfolio yang dibentuk menggunakan kriteria Warren Buffett dan Benjamin Graham menghasilkan rata-rata imbal balik hasil investasi tahunan masingmasing 9.42 % (atau kumulatif imbal balik hasil investasi 216.48%) dan 8.3 % (atau kumulatif imbal balik hasil investasi 198.27%). Lebih jauh lagi, Penulis mengamati bahwa portfolio yang dibentuk oleh ketiga kriteria “guru” di atas memiliki nilai beta (?) hampir sama dengan satu (1) yang artinya portfolio tersebut memiliki resiko yang sama dengan resiko sistematik yang ada (dalam komparasi dengan pasar saham atau market). Limitasi dari penelitian ini terbatas pada aspek fundamental kuantitatif yang berdasarkan pada data laporan keuangan masa lampau dan tidak memasukkan proyeksi pertumbuhan laba, periode back testing pada Mei 2012-Desember 2020, dan menggunakan bobot yang sama dalam pembentukan portfolio. Penulis berharap untuk riset ke depannya dapat menyertakan proyeksi pertumbuhan laba, memakai periode pengetesan yang lebih lama, dan menggunakan pembobotan saham seperti apa yang disarankan oleh “Guru” di dalam buku yang mereka tulis.