2021_TS_PP_Sandhy Muharamsyah Bachtiar_1-Abstrak.pdf
]
PUBLIC Open In Flipbook Yose Ali Rahman
Pertashop merupakan program yang diluncurkan oleh Pertamina pada tahun 2019. Program ini
tertuju pada SPBU skala kecil yang mendistribusikan BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan
Dexlite. Program ini merupakan upaya pemerintah untuk menyediakan energi berkelanjutan di
seluruh tanah air Indonesia dan meningkatkan taraf hidup pengusaha UKM dengan
memperkenalkan mereka ke sektor distribusi BBM. Pada tahun 2020, Pertamina bekerjasama
dengan berbagai departemen pemerintah, khususnya Kementerian Koperasi dan UKM
(KEMENKOP UKM). Upaya ini untuk mempermudah akses perijinan dan pembiayaan bagi
UKM untuk membangun gerai Pertashop. Peluang bisnis baru Pertashop ini tentunya banyak
menarik minat para pegiat UKM diantaranya CV XYZ, perusahaan yang berdiri sejak tahun
2017, yang memulai bisnisnya di industri retail. Namun karena belum adanya analisis
kelayakan yang komprehensif untuk menjustifikasi apakah bisnis ini akan menguntungkan atau
tidak, CV XYZ masih ragu untuk memasuki bisnis tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini
memberikan analisis yang akan membantu mereka untuk berhasil dalam bisnis ini.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis kelayakan finansial dalam mendirikan usaha
Pertashop. Termasuk didalamnya kerangka pemilihan lokasi potensial yang sesuai dengan
kriteria yang dipersyaratkan Pertamina dan preferensi pelanggan. Focus group discussion
dengan Direksi dilakukan untuk mendapatkan apa yang menjadi perhatian mereka dan
menetapkan beberapa asumsi yang akan digunakan dalam analisis. Beberapa data yang tidak
tersedia di sumber sekunder juga diperoleh dari survei yang diikuti oleh 618 responden.
Berdasarkan proses pengambilan keputusan, Pertashop akan berlokasi di Jl. Raya Majalaya -
Rancaekek dan memiliki kapasitas suplai Pertamax 3000 liter/hari. Estimasi anggaran modal
berdasarkan lokasi dan paket Pertashop yang dipilih adalah Rp 950.000.000 dengan estimasi
masa konstruksi lima bulan. Kelayakan finansial terdiri dari capital budgeting analysis dengan
menilai investasi dari beberapa faktor, seperti NPV, discounted PBP, PI, & IRR, dan analisis
ketahanan perusahaan (analisis rasio) dengan membandingkan rasio yang diperoleh dari
perhitungan dengan rasio benchmark. Selain itu, analisis sensitivitas dan skenario dilakukan
untuk menentukan variabel-variabel yang memiliki dampak signifikan terhadap NPV proyek
kemudian menganalisis skenario terburuk dan terbaik yang akan terjadi berdasarkan nilai
historis variabel-variabel tersebut. Terakhir, simulasi Monte Carlo juga dilakukan untuk
mengetahui probabilitas keberhasilan investasi ini.
Hasil yang diperoleh dari analisis kelayakan investasi ini adalah sebagai berikut: Net Present
Value (NPV) adalah Rp. 908.374.655, Discounted Pay Back Period 9,09 tahun, Profitability
Index (PI) sebesar 1,94, dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 22,49 %. Selain itu, beberapa
rasio keuangan terutama rasio profitabilitas proyek ternyata lebih baik dari benchmark-nya.
Berdasarkan analisis sensitivitas, ditentukan empat variabel nilai NPV proyek, kemudian
analisis skenario menunjukkan bahwa NPV akan bernilai rugi Rp. (532.221.432) dalam
skenario terburuk dan surplus Rp. 2.165.965.845 dalam skenario terbaik. Selain itu, simulasi
Monte Carlo menemukan bahwa probabilitas kegagalan bisnis ini di mana nilai NPV kurang
dari nol hanya sebesar 1,73%. Dari semua hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa bisnis
Pertashop sangat prospektif dan menguntungkan untuk dijalankan. Namun, beberapa variabel
sensitif harus diperhatikan dan dikendalikan (jika memungkinkan) untuk mendapatkan hasil
yang maksimal. Peneliti merekomendasikan untuk secepatnya membangun Pertashop di lokasi
terpilih untuk mengukuhkan eksistensinya sebagai pionir dan market leader di lokasi tersebut.
Perpustakaan Digital ITB