digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertashop merupakan program yang diluncurkan oleh Pertamina pada tahun 2019. Program ini tertuju pada SPBU skala kecil yang mendistribusikan BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dexlite. Program ini merupakan upaya pemerintah untuk menyediakan energi berkelanjutan di seluruh tanah air Indonesia dan meningkatkan taraf hidup pengusaha UKM dengan memperkenalkan mereka ke sektor distribusi BBM. Pada tahun 2020, Pertamina bekerjasama dengan berbagai departemen pemerintah, khususnya Kementerian Koperasi dan UKM (KEMENKOP UKM). Upaya ini untuk mempermudah akses perijinan dan pembiayaan bagi UKM untuk membangun gerai Pertashop. Peluang bisnis baru Pertashop ini tentunya banyak menarik minat para pegiat UKM diantaranya CV XYZ, perusahaan yang berdiri sejak tahun 2017, yang memulai bisnisnya di industri retail. Namun karena belum adanya analisis kelayakan yang komprehensif untuk menjustifikasi apakah bisnis ini akan menguntungkan atau tidak, CV XYZ masih ragu untuk memasuki bisnis tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan analisis yang akan membantu mereka untuk berhasil dalam bisnis ini. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis kelayakan finansial dalam mendirikan usaha Pertashop. Termasuk didalamnya kerangka pemilihan lokasi potensial yang sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan Pertamina dan preferensi pelanggan. Focus group discussion dengan Direksi dilakukan untuk mendapatkan apa yang menjadi perhatian mereka dan menetapkan beberapa asumsi yang akan digunakan dalam analisis. Beberapa data yang tidak tersedia di sumber sekunder juga diperoleh dari survei yang diikuti oleh 618 responden. Berdasarkan proses pengambilan keputusan, Pertashop akan berlokasi di Jl. Raya Majalaya - Rancaekek dan memiliki kapasitas suplai Pertamax 3000 liter/hari. Estimasi anggaran modal berdasarkan lokasi dan paket Pertashop yang dipilih adalah Rp 950.000.000 dengan estimasi masa konstruksi lima bulan. Kelayakan finansial terdiri dari capital budgeting analysis dengan menilai investasi dari beberapa faktor, seperti NPV, discounted PBP, PI, & IRR, dan analisis ketahanan perusahaan (analisis rasio) dengan membandingkan rasio yang diperoleh dari perhitungan dengan rasio benchmark. Selain itu, analisis sensitivitas dan skenario dilakukan untuk menentukan variabel-variabel yang memiliki dampak signifikan terhadap NPV proyek kemudian menganalisis skenario terburuk dan terbaik yang akan terjadi berdasarkan nilai historis variabel-variabel tersebut. Terakhir, simulasi Monte Carlo juga dilakukan untuk mengetahui probabilitas keberhasilan investasi ini. Hasil yang diperoleh dari analisis kelayakan investasi ini adalah sebagai berikut: Net Present Value (NPV) adalah Rp. 908.374.655, Discounted Pay Back Period 9,09 tahun, Profitability Index (PI) sebesar 1,94, dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 22,49 %. Selain itu, beberapa rasio keuangan terutama rasio profitabilitas proyek ternyata lebih baik dari benchmark-nya. Berdasarkan analisis sensitivitas, ditentukan empat variabel nilai NPV proyek, kemudian analisis skenario menunjukkan bahwa NPV akan bernilai rugi Rp. (532.221.432) dalam skenario terburuk dan surplus Rp. 2.165.965.845 dalam skenario terbaik. Selain itu, simulasi Monte Carlo menemukan bahwa probabilitas kegagalan bisnis ini di mana nilai NPV kurang dari nol hanya sebesar 1,73%. Dari semua hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa bisnis Pertashop sangat prospektif dan menguntungkan untuk dijalankan. Namun, beberapa variabel sensitif harus diperhatikan dan dikendalikan (jika memungkinkan) untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Peneliti merekomendasikan untuk secepatnya membangun Pertashop di lokasi terpilih untuk mengukuhkan eksistensinya sebagai pionir dan market leader di lokasi tersebut.