digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Rayendra Yustian Dvinanda
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 1 Rayendra Yustian Dvinanda
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 Rayendra Yustian Dvinanda
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 Rayendra Yustian Dvinanda
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 Rayendra Yustian Dvinanda
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA Rayendra Yustian Dvinanda
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

Industri Pengembangan Pembangkit Listrik di Indonesia adalah salah satu industri yang paling menjanjikan, selain dari proses yang rumit untuk mengembangkannya, masih dianggap memiliki pengembalian investasi yang tinggi. Mengingat kenyataan bahwa Presiden Joko Widodo memiliki Program Nawacita, yang salah satunya termasuk pengembangan pasokan listrik 35 GW pada masa pemerintahannya. Kowepo Consortium, yang terdiri dari Korea Western Power. Co, Ltd, Oleh karena itu. Co, Ltd, SK. Co, Ltd, dan Cheongsu Power Indonesia adalah konsorsium Independent Power Provider di Indonesia yang ingin mengambil bagian dalam sektor pembangkit listrik Indonesia. Pada 2017, konsorsium KOWEPO mengadakan perjanjian dengan Kementerian Koordinator Perekonomian untuk menyediakan listrik di Zona Ekonomi Khusus Palu. Namun, pada tahun yang sama, KOWEPO Consortium juga diminta oleh BRIGHT PLN BATAM untuk menyediakan pembangunan Pembangkit Listrik di zona perdagangan bebas Batam. Karena keterbatasan waktu, uang, dan sumber daya manusia, konsorsium KOWEPO harus memutuskan strategi tentang cara mengambil satu, dari dua proyek yang diusulkan yang harus diambil oleh Konsorsium untuk mengoptimalkan segala sumber yang dimiliki oleh konsorsium. Strategi akan dipilih melalui analisis yang dilakukan dari lingkungan bisnis internal dan eksternal menggunakan analisis 5C. Data untuk input akan diperoleh melalui pengumpulan data primer dan sekunder, setelah mengetahui lingkungan bisnis, kemudian akan dilakukan analisis EFE dan IFE bersama-sama dengan menggunakan Matriks AHP untuk mendapatkan pembobotan yang konsisten. Selanjutnya, Grand Strategy Matrix akan menentukan ke arah mana konsorsium harus bertindak dan menggunakan QSPM agar alternatif terbaik muncul dan dari alternatif yang ada, strategi bisnis akan dirumuskan. Untuk KOWEPO Consortium, Grand Strategy Matrix menunjukkan bahwa konsorsium sudah berada pada posisi di Kuadran 1, berarti perusahaan berada dalam posisi yang baik untuk mengembangkan produk dan / atau pasar. Berdasarkan hasil analisis QSPM, terlihat bahwa Proyek Pembangkit Listrik KEK Palu memiliki skor lebih baik daripada Batam. Untuk mengoptimalkan sumber daya yang mereka miliki, KOWEPO Konsorsium harus memutuskan untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Palu KEK Palu. Untuk mengembangkan Pembangkit Listrik di KEK Palu dianggap sebagai strategi pengembangan pasar untuk KOWEPO Consortium. Karena Konsorsium sudah mengamankan tender dan offtaker. Konsorsium akan segera memulai implementasinya pada awal tahun 2020.