Peralihan energi, terutama pasca penandatanganan Protokol Kyoto pada 11 Desember 1997, meskipun kemajuannya lambat, telah mengubah iklim bisnis perdagangan minyak dan gas bumi, termasuk bisnis tangki penyimpanan di wilayah Selat Malaka dan Asia Tenggara. Deklarasi Singapura untuk berpartisipasi sebagai negara perintis dalam peralihan energi dan menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menerapkan skema harga karbon pada 1 Januari 2019, dengan memberlakukan pajak karbon, telah mendorong beberapa pemain besar dalam bisnis ini untuk melepas aset terminal yang melayani penyewaan tangki dan kilang di wilayah Singapura atau mengalihkan bisnis mereka ke energi hijau, seperti Shell dan Advario.. Hal ini menciptakan peluang bagi Pulau Sambu Fuel Terminal, yang dioperasikan langsung oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak perusahaan PT Pertamina International Shipping, untuk dapat mengambil peran sebagai lokasi penyimpanan alternatif, yang diperkuat oleh lokasinya yang strategis di Selat Singapura dan kondisi saat ini yang belum dimanfaatkan.
Peluang luas yang muncul tidak disertai dengan kemudahan dalam menjalankan bisnis, khususnya bisnis tangki penyimpanan, tantangan regulasi terutama terkait dengan peraturan pajak yang diterapkan untuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) sebesar 22% dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11%. Penelitian ini memiliki hipotesis bahwa meskipun Pulau Sambu memiliki keunggulan dari sisi lokasi geografis dan potensi pengembangan yang masih terbuka lebar, keunggulan tersebut hanya dapat terealisasi sebagian mengingat adanya hambatan regulasi, ketidaksesuaian desain terminal dengan nature strorage bisnis, dan belum dikenalnya PET di internasional. Lebih lanjut, tanpa dukungan aktif pemerintah, terutama terkait pelonggaran atau pembebasan pajak badan (Pph badan) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pengembangan bisnis jangka panjang Pulau Sambu hanya akan terbatas pada segmen pasar yang lebih rendah. Ambisi PET untuk menjadikan Terminal Bahan Bakar Pulau Sambu sebagai pusat penyimpanan bahan bakar minyak mentah dan bunkering regional akan sulit tercapai.
Perpustakaan Digital ITB