Article Details

UPAYA PENINGKATAN KESELAMATAN KERJA DI AREA PT BERAU COAL MENGGUNAKAN EARLY WARNING SYSTEM

Oleh   Davi Aditya Tantra [29120433]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ir. Gatot Yudoko, M.A.Sc., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : Magister Bisnis dan Administrasi - Teknologi
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen
Subjek : General management
Kata Kunci : Early Warning System, Sistem Bekerja Selamat, Perbaikan Berkelanjutan, Indikator Utama, Indikator Tertinggal.
Sumber :
Staf Input/Edit : Yose Ali Rahman  
File : 1 file
Tanggal Input : 19 Sep 2022

PT Berau Coal adalah salah satu produsen Batubara terbesar di Indonesia yang terletak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Untuk mengelola kegiatan operasional dengan 18.541 orang pekerja dengan aman, PT Berau Coal menerapkan Sistem Bekerja Selamat yang terdiri atas 5 lapis pencegahan insiden dimana tiap lapisnya terdiri atas beragam aktivitas untuk membantu pekerja mengenali resiko, mengelola dan melakukan mitigasi resiko, mencegah timbulnya potensi bahaya dari faktor personal dan faktor pekerjaan, serta mencegah kemunculan kondisi tidak aman (KTA) dan Tindakan tidak aman (TTA) yang merupakan penyebab langsung kecelakaan. Seluruh aktivitas di dalam Sistem Bekerja Selamat wajib diimplementasikan dan dipatuhi oleh seluruh pekerja yang bekerja di PT Berau Coal. Pada tahun 2021, terdapat 148 kejadian dengan 2 kejadian berkategori LTI dimana 1 kejadian berkategori fatal dan 1 kejadian berakibat cedera mayor, berdasarkan hasil investigasi didapati bahwa 91% dari penyebab kecelakaan di tahun 2021 diakibatkan adanya celah pada program keselamatan. Di saat yang bersamaan, hasil implementasi program keselamatan menunjukkan hanya 3 dari 13 program keselamatan yang nilainya dibawah baseline dimana 10 lainnya memiliki nilai 90100%. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa implementasi Sistem Bekerja Selamat tidak mendukung performa serta kesuksesan upaya pengelolaan keselamatan. Early Warning System merupakan inisiatif untuk menyelaraskan performa antar indikator utama dan indikator tertinggal dengan cara memperkaya aspek pengukuran dan evaluasi terhadap indikator utama melalui pengenalan faktor koreksi yang didapat dari laporan terhadap kondisi dan tindakan tidak aman yang dideteksi melalui inspeksi, audit dan laporan lainnya, kelebihan metode ini adalah celah dapat dideteksi lebih awal untuk dilakukan intervensi perbaikan sebelum sempat menjadi kontributor terjadinya suatu insiden. Hal ini merupakan upaya proaktif dalam proses perbaikan berkelanjutan.