Artikel Terbaru

OPTIMALISASI PEMILIHAN VENDOR OLI TRANSMISI MENGGUNAKAN METODE AHP DAN FUZZY AHP: STUDI KASUS DI AIRCRAFT SERVICES – PT. DIRGANTARA INDONESIA

Oleh   Adnan Fauzi Rachman [29119239]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Santi Novani, S.T., M.T., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : Magister Bisnis dan Administrasi - Teknologi
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Subjek : General management
Kata Kunci : pengadaan, logistik, pemilihan vendor, AHP, Fuzzy AH
Sumber :
Staf Input/Edit : Yose Ali Rahman   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 2021-04-14 21:29:49

Saat ini Aircraft Services sedang menghadapi masalah yang berasal dari Departemen Logistik dan Pengadaan. Sejumlah material, suku cadang, dan komponen yang berlebih, disimpan di gudang dalam waktu yang cukup lama dan menunggu untuk digunakan sebagai Order Processing (OP) atau Sales Order (SO). Hal ini terjadi sebagai akibat proses pemilihan vendor yang lebih mengutamakan faktor “Cost” daripada “Quality” dan “Delivery” karena tidak adanya sistem atau alat bantu statistik yang dapat digunakan untuk mendukung proses pengambilan keputusan. Selalu ada kemungkinan bahwa Aircraft Services bisa mendapatkan harga termurah dari beberapa vendor namun hal ini tentunya diiringi dengan persyaratan Minimum Order Quantity (MOQ) yang dikeluarkan oleh vendor. Kondisi ini dapat menyebabkan Departemen Logistik mengalami kelebihan stok, mengingat pembelian dengan harga murah biasanya disertai dengan sejumlah material, suku cadang, atau komponen yang tidak diperlukan yang harus disimpan di gudang. Pada tahun 2013 dan 2014, Departemen Pengadaan Aircraft Services telah mengeluarkan Purchase Order (PO) kepada beberapa vendor untuk memesan 240 kaleng oli transmisi (Part Number: ROYCO555) untuk 17 unit helikopter NBell-412 untuk TNI-AD yang harus dirakit dan dikirim di tahun 2014 - 2015. Akibat adanya salah perhitungan, terdapat 238 kaleng oli transmisi yang tidak digunakan dan telah habis masa berlakunya pada tahun 2019. Saat itu, Aircraft Services mengalami kerugian sekitar Rp 46,5 juta. Pada tahun 2019, Departemen Pengadaan kembali mengeluarkan PO kepada sebuah vendor untuk memesan 168 kaleng ROYCO555 untuk mendukung proses perakitan 9 unit Bell-412 EPI untuk TNI-AD yang harus dikirim di tahun 2020 - 2021. Berdasarkan pengalaman di masa lalu, Departemen Pengadaan harus melibatkan setiap faktor (Quality, Cost, dan Delivery) untuk dibandingkan dengan menggunakan metode Multi-Criteria Decision Making (MCDM) sebelum memutuskan untuk mengeluarkan PO ke vendor terpilih. Berdasarkan hal tersebut, Departemen Pengadaan harus memiliki suatu sistem atau alat bantu statistik yang dapat digunakan untuk membantu proses pemilihan vendor secara otomatis berdasarkan kebutuhan atau spesifikasi tertentu.