Article Details

PENGARUH PROSES Enhanced Flux Maintenance (EFM) DAN PROSES Clean In Place (CIP) TERHADAP KINERJA MEMBRAN ULTRAFILTRASI TERENDAM PADA PEMBENTUKAN FOULING (STUDI KASUS : PDAM TIRTAWENING BANDUNG)

Oleh   NURUL AJENG SUSILO (NIM : 25312304)
Kontributor / Dosen Pembimbing : Pembimbing : Dr. Ir. Agus Jatnika Effendi
Jenis Koleksi : Anggota
Penerbit :
Fakultas :
Subjek :
Kata Kunci : Kekeruhan, fouling, TMP, frekuensi EFM, dan biaya rendah ; Turbidity, fouling, TMP, EFM frequency, and low cost
Sumber :
Staf Input/Edit : hidayat  
File : 7 file
Tanggal Input : 2018-10-26 15:53:40

Permasalahan yang sering terjadi dalam penggunaan teknologi membran yaitu terbentuknya endapan/foul pada permukaan maupun pori membran. Fouling dapat menghambat proses filtrasi sehingga diperlukan suatu proses untuk menghilangkan endapan tersebut. EFM (Enhanced Flux Maintenance) dan CIP (Clean In Place) adalah proses pencucian membran menggunakan bahan kimia. Pada penelitian ini dilihat pengaruh proses EFM dan CIP terhadap kinerja serta efektivitas membran dalam menggantikan tahapan pada pengolahan konvensional koagulasi-flokulasi-sedimentasi). Analisis kinerja membran ditentukan berdasarkan parameter kualitas air (secara fisika dan kimia) dan parameter operasional (flux, TMP-Transs Membrane Pressure, frekuensi EFM, % Recovery). Penelitian dilakukan pada skala pilot menggunakan sumber air baku campuran (Cikapundung-Cikalong) dengan tingkat kekeruhan air baku yang fluktuatif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu membran ultrafiltrasi lebih efektif dalam menyisihkan kekeruhan dengan efisiensi mencapai 99,98% sementara sistem konvensional menghasilkan efisiensi penyisihan kekeruhan sebesar 97,30%. Tingkat kekeruhan air baku yang tinggi berpengaruh terhadap peningkatan nilai TMP secara signifikan. Pada kondisi tingkat kekeruhan yang tinggi terkandung juga material penganggu seperti zat organik, Fe, Mn dalam bentuk terlarut maupun tersuspensi. Berdasarkan hasil analisis FTIR dan SEMEDX fouling yang terbentuk pada permukaan dan pori membran termasuk jenis fouling organik dan anorganik. Frekuensi EFM yang paling sedikit (7 hari sekali) kurang efektif dalam menghilangkan fouling organik dan fouling anorganik (Fe dan Mn) terlihat dari penurunan % recovery membran yang signifikan. Kondisi operasional optimum dalam pengolahan menggunakan membran berada pada kondisi flux=55 LMH dan frekuensi EFM 4 hari sekali. Biaya operasional pengolahan konvensional di IPA Badak Singa untuk proses pengolahan lama sebesar Rp.905/m3 dan untuk proses pengolahan baru sebesar Rp. 940/m3. Sedangkan biaya operasional pengolahan menggunakan membran yang paling rendah (low cost) terdapat pada kondisi 5 dengan biaya sebesar Rp. 919,7/m3.