digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Air merupakan sumberdaya yang penting bagi kehidupan. Oleh karena itu dalam prinsip Human Right Based Approach (HRBA) dikatakan bahwa air berhak untuk didapatkan semua orang tanpa memandang status, kedudukan, maupun kemampuan ekonominya. Pada kenyataannya, penyediaan air bersih perkotaan belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat khususnya masyarakat berpendapatan rendah. Di Jakarta terdapat beberapa persoalan air bersih yang signifikan, yaitu masalah tarif dan kualitas air. Untuk meminimalisir dampak persoalan tersebut, maka LSM Mercy Corps menginisiasikan program penyediaan air bersih berbasis masyarakat yang disebut dengan HP3/Lestari. HP3/Lestari menawarkan bentuk interaksi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penyediaan air bersih. Dalam program ini terdapat kemungkinan belum optimalnya hubungan antara masyarakat dan pemerintah. Penelitian ini merumuskan alternatif untuk hubungan masyarakat dan pemerintah dalam penyediaan air bersih. Dengan menggunakan metode analisis Within Case Display-Exploring and Describing dan teknik Analisis Jaringan Sumber serta Indikator Keberdayaan, diperoleh tiga alternatif dengan aktor utama yang berbeda. Alternatif yang pertama menawarkan solusi untuk menguatkan kelembagaan pemerintah terlebih dahulu. Alternatif yang ke dua adalah mendorong kapasitas masyarakat untuk memberikan stimulus bagi pemerintah, dan yang ke tiga adalah memungkinkan intervensi pihak ke tiga (LSM). Dari penelitian ini akhirnya diperoleh suatu kesimpulan bahwa penerapan HRBA dalam penyediaan air bersih berbasis masyarakat memerlukan peran aktif pemerintah. Hal ini dikarenakan sistem penyediaan air bersih bukan lah suatu hal yang mudah untuk dilakukan masyarakat secara mandiri. Oleh karena itu dalam menyelenggarakan Sistem Penyediaan Air Bersih Berbasis Masyarakat perlu adaya konsistensi dan komitmen yang kuat diantara kedua belah pihak.