digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 Nadya Intan Kemala
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 Nadya Intan Kemala
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 Nadya Intan Kemala
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 Nadya Intan Kemala
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA Nadya Intan Kemal
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

Pada tahun 2018, Bank Berdaya meluncurkan inisiatif bernama Digital Syariah Ekosistem. Objektifnya adalah untuk membangun keunggulan operasional yang optimum melalui optimasi dan digitalisasi proses guna membantu nasabah pra-sejahtera dan komunitasnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai salah satu cara untuk mengimplementasikan inisiatif tersebut, manajemen mencoba mengadopsi cara kerja Agile. Perusahan perlu merekrut banyak orang dari luar organisasi yang sudah terbiasa dengan cara kerja Agile. Permasalahan muncul ketika para senior dari berbagai level memutuskan untuk keluar dari perusahaan. Dengan tiadanya standarisasi dalam proses transfer pengetahuan, situasi ini menyebabkan terjadinya kesenjangan pengetahuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengusulkan sistem Knowledge Management (KM) yang dapat digunakan untuk mendukung inisiatif Sharia Digital Ecosystem yang terdiri dari cara kerja Agile dan non-Agile (Waterfall); dan untuk menyarankan rencana implementasi yang dapat digunakan untuk mendukung sistem KM yang disarankan. Tiga kerangka KM digunakan untuk mengidentifikasi lima langkah proses KM yang telah dikembangkan Jann. Kerangka kerja tersebut adalah: People-Process-Technology, Experience Based Management, dan SECI. Hasil penelitian menemukan bahwa Divisi TI telah memiliki platform KM yang bernama Confluence. Namun, pemanfaatannya masih belum maksimal karena tidak adanya staff atau unit tertentu yang memiliki kewenangan untuk mendorong dan menegakkan penggunaan Confluence. Peneliti mengusulkan tiga rekomendasi. Pertama, karyawan Divisi TI harus mengoptimalkan penggunaan Confluence. Kedua, kebutuhan PTD sebagai unit yang dapat menegakkan dan mendorong karyawan untuk menggunakan Confluence. Ketiga, PTD perlu berkomunikasi dengan HC untuk mengusulkan kemungkinan pemberian reward atau punishment guna mendorong karyawan memiliki budaya knowledge management.