digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Rahmawati Intan Pratiwi
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Indonesia sebagai kawasan ekosistem mangrove terbesar di dunia memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan biosfer global. Selain skala global, ekosistem mangrove juga memiliiki peran tersendiri untuk wilayahnya, salah satunya di Kota Semarang. Ekosistem mangrove Tugurejo merupakan bagian dari kawasan mangrove terluas di Kota Semarang yang berperan penting bagi stabilitas pesisir Kota Semarang. Meski berperan penting, keberadaannya masih sering dikorbankan untuk kepentingan ekspansi industri, yang berdampak pada penurunan signifikan ekosistem mangrove. Kondisi ini juga menimbulkan konflik pemanfaatan ruang, dimana masyarakat lokal memiliki keterikatan secara historis, ekologis serta ekonomis terhadap ekosistem mangrove. Intervensi arsitektur diperlukan untuk mengakomodasi posisi sebagai kawasan lindung mangrove dari ekspansi industri serta sebagai wadah pemberdayaan kolaboratif. Perancangan Tugurejo Mangrove Eco-Hub sebagai design catalyst, bertujuan untuk merancang sebuah fasilitas yang memicu perubahan, perlindungan dan percepatan proses regenerasi dalam lingkungan. Mengintegrasikan fungsi penelitian, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat sebagai pemicu perubahan. Menggunakan pendekatan regeneratif dan resiliensi yang berupaya membangun kemitraan aktif antara objek arsitektur dengan ekosistem untuk meningkatkan kapasitas lingkungan secara progresif. Metode perancangan mencakup analisis tapak secara menyeluruh, kajian literatur, dan studi preseden terkait fungsi, lokasi perancangan, dan konstruksi lahan basah. Perancangan dirumuskan dengan gubahan massa yang menyebar dalam kawasan perancangan dengan sistem panggung atau elevated untuk mengurangi dampak fisik ke lingkungan lahan basah. Secara teknis menyediakan zona untuk ruang pulih dan berkembang keseluruhan ekosistem mangrove, serta akselerator peningkatan kerapatan mangrove. Struktur baja dan beton prefabrikasi dipilih untuk meminimalisasi konstruksi, sekaligus rekayasa pada struktur yang memungkinkan berperan sebagai sediment capture dan nursery habitat. Untuk meningkatkan resiliensi, fasilitas juga berperan dalam mewujudkan konektivitas dan kolaborasi melalui transfer pengetahuan serta pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan begitu mampu meningkatkan ethical interdependence antara manusia dan lingkungan untuk saling menjaga, melestarikan, dan melindungi.