Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola konsumsi literasi masyarakat, namun di saat yang sama memunculkan paradoks berupa kebangkitan minat terhadap buku fisik sebagai experiential object yang didorong oleh tren media sosial. Pasar Buku Palasari sebagai ikon dan pusat literasi bersejarah di Kota Bandung mengalami penurunan kualitas fisik dan aktivitas akibat tidak mampunya fasilitas eksisting dalam merespons perubahan kebutuhan pengguna modern. Perancangan tesis ini bertujuan untuk merumuskan strategi revitalisasi Pasar Buku Palasari agar kembali menjadi pusat kegiatan literasi yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing melalui pendekatan placemaking.
Pendekatan placemaking digunakan untuk mentransformasi Pasar Palasari dari sekadar tempat transaksi jual-beli buku menjadi ruang ketiga (third place) yang mengintegrasikan aspek sosiabilitas, kenyamanan, aksesibilitas, serta beragam aktivitas. Metode perancangan dilakukan melalui analisis yang mencakup studi literatur, analisis konteks makro-mikro, analisis pengguna (pedagang, pengunjung, pengelola), pemetaan aktivitas, serta kajian preseden proyek revitalisasi. Prinsip desain biofilik dan arsitektur mixed-use juga diintegrasikan untuk meningkatkan kesejahteraan (health & wellbeing) pengguna serta keberlanjutan ekonomi kawasan.
Hasil perancangan menghasilkan konsep revitalisasi Pasar Buku Palasari yang mengombinasikan penataan ulang zonasi pedagang eksisting, penyediaan ruang publik dan komunitas, area baca interaktif, fasilitas komersial pendukung, serta
penataan sirkulasi dan fasad bangunan yang terbuka terhadap lingkungan sekitar. Integrasi strategi ini tidak hanya memperbaiki citra dan kinerja spasial kawasan, tetapi juga memperkuat identitas literasi Kota Bandung dan menciptakan wadah interaksi sosial yang berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB