Perancangan ini didasarkan pada permasalahan kompleks yang dihadapi oleh penyandang disabilitas dalam masyarakat. Kendati sudah memiliki payung hukum yang jelas yakni Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, tetapi pada kenyataanya penyandang disabilitas masih dihadapkan pada persoalan yang datang dari masyarakat. Diskriminasi yang kian datang dari masyarakat membuat mereka menjadi kaum yang termarjinalkan. Tak jarang akibat dari pemarjinalan kelompok disabilitas ini membuat mereka kesulitan mengakses berbagai fasilitas publik. Hal ini akan membuat diri mereka akan sulit berkembang. Dampak tidak langsung yang ditimbulkannya adalah mereka akan sulit bersaing untuk mendapat pekerjaan yang layak. Kondisi ini memungkinkan mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang akan terus berputar. Berbagai data menyebutkan bahwa penyandang disabilitas di Indonesia tidak banyak yang menganggur, bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Namun setelah ditelisik lebih dalam banyak pengguna yang masih bekerja di sektor informal. Salah satu hal terbesar yang membuat ini terjadi adalah karena pemberi lapangan kerja masih belum siap menerima pekerja disabilitas. Maka dari itu, penyandang disabilitas berpotensi untuk dikembangkan nilai kreatifitasnya agar dapat menciptakan lapangan kerja paling tidak untuk diri sendiri. Hal ini sejalan dengan fokus pemerintah terhadap sektor ekonomi kreatif untuk pilar perekonomian masa depan. Maka dari itu dirancanglah sebuah creative hub yang menjadi pusat dari belajar, bekerja, hingga pemasaran dalam lingkup ekonomi kreatif.
Tujuan utama dari tesis ini adalah untuk merumuskan kerangka perancangan arsitektur dengan pendekatan yang lebih relevan terhadap isu yang diangkat. Hal ini didasari dari adanya kritik keras dari para ahli bahwa desain arsitektur untuk penyandang disabilitas tidak harus selalu terasosiasikan dengan ramp atau lift. Desain untuk disabilitas tidak hanya memperhatikan aspek fungsionalitas, tetapi juga aspek keindahan untuk memberikan pengalaman ruang dan membentuk aktivitas pengguna di dalamnya.
Metodologi yang digunakan dalam perancangan ini didasarkan pada 3 pendekatan atau persoalan desain. Salah satu persoalan yakni universal design yang merupakan persoalan dasar yang harus terpenuhi karena beberapa bahkan sudah terstandarisasi. Pendekatan ini akan memudahkan pergerakan dan aksesibilitas pengguna. Dua pendekatan lain, merupakan pendekatan lanjutan yang tidak hanya fokus pada aksesibilitas dan pergerakan pengguna, tetapi juga fokus dalam merespon isu untuk memberdayakan penyandang disabilitas di bidang
kreatif. Dua pendekatan ini adalah experiential design dan design for social interaction yang akan dapat mempengaruhi proses kreatif dari pengguna.
Proyek ini akan dibangun di atas lahan Sentra Wyata Guna, pusat pelayanan sosial terutama pengguna disabilitas di Kota Bandung. Dengan menggunakan lahan yang memiliki fungsi eksisting, maka fungsi lama juga akan terwadahi antara lain, masjid, asrama disabilitas, ruang gym, koperasi, tempat pelatihan pijat, klinik dan ruang arsip. Untuk creative hub sendiri akan mewadahi 4 kegiatan ekonomi kreatif dengan peminat terbanyak yakni fashion, kriya, kuliner dan seni pertunjukan. Bidang ekonomi kreatif lainnya yakni konten digital ditambahkan sebagai media pemasaran dari 4 bidang ekonomi kreatif di atas. Kegiatan yang dilakukan akan dikelompokkan ke dalam kegiatan pembelajaran, kegiatan produksi (bekerja), dan kegiatan pameran untuk memasarkan produk ke masyarakat luas. Sebagai bangunan dengan fungsi campuran, proyek ini juga memiliki aprtemen co-living, yang mewadahi pengguna disabilitas khususnya pelaku industri ekonomi kreatif untuk tinggal dengan segala ekosistem ramah disabilitasnya yang saling terintegrasi. Pengguna disabilitas untuk proyek ini akan dibatasi hanya pengguna disabilitas fisik dan sensorik, karena kebutuhan dan karakteristik dari pengguna disabilitas ini lebih relevan untuk dijadikan sebagai subjek pengguna dalam objek perancangan ini. Konsep dan hasil perancangan akan disusun dengan mempertimbangkan karakteristik pengguna, pendekatan desain dan 7 keputusan deaain arsitektur yakni rancangan tapak, geometri, konfigurasi ruang, sirkulasi, pelingkup, konfigurasi elemen interior, dan ambiance ruangan.
Perpustakaan Digital ITB