Sektor transportasi minyak menghadapi tekanan yang semakin besar akibat
volatilitas harga bahan bakar diesel, peningkatan biaya operasional, serta isu
kehandalan pada system pemompaan berbasis diesel. PT Pertamina Gas,
khususnya di Operation Central Sumatera Area, masih menggunakan diesel pum
driver dalam operasi transportasi minyak mentah, sehingga menimbulkan
ketidakpastian biaya, kebutuhan pemeliharaan yang tinggi, dan risiko downtime
akibat faktor mekanikal. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kelayakan
ekonomi dan implikasi biaya jangka panjang antara model kepemilikan dan sewa
dalam implementasi motor listrik sebagai pengganti diesel pump driver. Metode
yang digunakan Adalah mixed method dengan menggabungkan analisa keuangan
kuantitatif, life cycle cost, analisis sensitivitas, breakeven analysis, serta kajian
strategis kualitatif. Evaluasi finansial dilakukan menggunakan NPV, IRR, Payback
Period, Profitability Index, dan Life Cycle Cost dengan horizon proyek 15 tahun
dan WACC sebesar 11,16%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model
kepemilikan memberikan nilai ekonomi jangka Panjang terbaik, dengan NPV
sebesar Rp 37.292.0 juta, IRR 67,64%, payback period 1,48 tahun, dan profitability
index 4,84. Model kepemilikan juga memiliki biaya siklus hidup yang lebih rendah,
yaitu present value cost sebesar Rp 13.285 juta dibandingkan Rp 40.744,7 juta
pada model sewa. Sewa jangka panjang menghasilkan NPV positif sebesar Rp
11.663,0 juta, namun jauh lebih rendah dibandingkan model kepemilikan, sehingga
tidak direkomendasikan sebagai solusi permananen, sedangkan sewa jangka
pendek hanya dapat digunakan sebagai strategi sementara Ketika tambahan
volume melebihi batas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model kepemilikan
sebaiknya dipilih sebagai strategi utama jangka panjang untuk meningkatkan
efisiensi biaya, pengendalian asset, kehandalan operasi, dan mendukung agenda
transisi energi Pertagas
Perpustakaan Digital ITB