digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Juicible, unit ritel dari Surplus Indonesia, mengubah buah-buahan yang tidak sempurna secara estetika namun masih layak konsumsi (rescued fruit) menjadi smoothie segar yang dijual melalui dua gerai tetap di Jakarta, yaitu di Pasar Santa dan Anfa Padel Arena, serta melalui armada gerobak keliling JuLing. Dari sisi hulu, bisnis ini berjalan baik, dengan margin kotor sebesar 35,98% dan resep yang dinilai tinggi oleh pelanggan di gerai. Namun, sisi hilir tidak demikian. Pendapatan dari gerai fisik turun menjadi Rp21,20 juta pada Desember 2025, setara dengan 15,7% dari target bulanan yang ditetapkan untuk jaringan gerai, dan penurunan ini berlangsung sepanjang deret data penjualan selama dua puluh dua bulan. Persoalan yang dihadapi adalah persoalan konversi di titik penjualan, bukan persoalan produksi. Temuan ini relevan melampaui satu perusahaan saja: usaha pangan berbasis ekonomi sirkular berkembang pesat di Indonesia, namun secara konsisten menghadapi kesenjangan antara sikap dan perilaku (value-action gap), yaitu konsumen menyatakan dukungan terhadap pengurangan limbah pangan, tetapi keputusan pembelian mereka pada kenyataannya masih banyak ditentukan oleh verifikasi sensoris dan bukti visual yang tampak langsung di gerai. Penelitian ini menyaring ketujuh elemen bauran pemasaran (7P) melalui tiga uji seleksi: (1) apakah terdapat bukti bahwa elemen tersebut berkinerja di bawah harapan; (2) apakah perusahaan dapat mengubah elemen tersebut sesuai batasan yang dimilikinya; dan (3) apakah elemen tersebut dapat dievaluasi dengan data yang tersedia. Hanya dua elemen yang lolos ketiga uji tersebut, yaitu Bukti Fisik (Physical Evidence) dan Promosi (Promotion). Penelitian ini kemudian menguji pengaruh presentasi ritel dan komunikasi visual terhadap nilai yang dipersepsikan konsumen atas produk, serta apakah persepsi nilai tersebut memengaruhi niat beli dan kesediaan untuk berkunjung ke gerai dengan lalu lintas pengunjung yang rendah (destination-pull intention). Tiga hipotesis diuji: pertama, Bukti Fisik meningkatkan persepsi nilai pelanggan; kedua, Promosi meningkatkan persepsi nilai pelanggan; dan ketiga, persepsi nilai pelanggan meningkatkan niat beli. Penelitian menggunakan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dengan kuesioner yang disebarkan secara daring kepada konsumen aktif di wilayah DKI Jakarta. Dari 452 respons mentah yang terkumpul, 416 dinyatakan valid setelah proses penyaringan dan kendali mutu data, dan setelah 30 responden pertama disisihkan sebagai kelompok uji coba (pilot), diperoleh sampel analisis utama sebanyak 386 responden. Dari 38 indikator awal, 30 indikator dipertahankan, dan model pengukuran memenuhi syarat validitas konvergen, validitas diskriminan, serta reliabilitas sebelum pengujian hipotesis dilakukan. Ketiga hipotesis penelitian didukung oleh data. Bukti Fisik meningkatkan persepsi nilai pelanggan dengan koefisien jalur sebesar 0,449, dan Promosi sebesar 0,393, yang bersama-sama menjelaskan 60,7% varians pada persepsi nilai pelanggan. Persepsi nilai pelanggan mendorong niat beli dengan koefisien jalur sebesar 0,648, yang menjelaskan 42,0% varians pada niat beli. Hasil penelitian menunjukkan secara tepat letak kegagalan tersebut: baik penawaran produk maupun harga bukan menjadi persoalan, karena kewajaran harga merupakan item dengan penilaian tertinggi dalam keseluruhan instrumen. Titik terlemah justru terletak pada kejelasan alur pemesanan dan pembayaran, yang bermasalah di kedua gerai sehingga lebih merupakan persoalan format layanan dibandingkan persoalan lokasi, serta pada standar suasana (ambience) salah satu gerai dibandingkan dengan lingkungan tempatnya berada. Penelitian ini memberikan tiga kontribusi utama. Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan layanan fisik (servicescape) mampu memprediksi niat perilaku pada responden yang belum pernah dilayani secara langsung, sehingga memperluas tradisi kajian servicescape yang selama ini lebih banyak diterapkan pada konteks pascakonsumsi. Kedua, penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kategori ini, lingkungan gerai lebih banyak menandakan kompetensi operasional dibandingkan nilai ekologis semata, karena isyarat kebersihan dan tata letak yang sederhana justru membawa pengaruh terbesar, sementara elemen simbolis keberlanjutan merupakan indikator terlemah. Ketiga, temuan ini diterjemahkan menjadi enam tindakan konkret yang telah diperhitungkan biayanya dan dikelompokkan ke dalam tiga skenario anggaran