digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Indonesia menuntut fasilitas penyimpanan sementara berizin untuk mengendalikan persediaan secara efisien sekaligus mematuhi batas waktu simpan dan kapasitas yang ketat. PT Limbah Lestari (nama disamarkan), sebuah fasilitas pengumpulan berizin, menghadapi tekanan tersebut dalam bentuk zone overflow yang berulang, selisih antara catatan dan stok fisik, serta pemantauan umur simpan yang bersifat reaktif. Penelitian ini merancang strategi pengendalian persediaan terintegrasi berbasis data untuk menurunkan risiko kepatuhan dan menjaga kelayakan operasional gudang di dalam footprint izin yang ada. Dengan desain studi kasus tunggal bermetode campuran, penelitian ini merekonstruksi saldo harian dari data transaksi tahun 2025 atas 53 aliran limbah dalam lingkup (sekitar 236.000 kg rata-rata on-hand) dan mengklasifikasikannya berdasarkan massa fisik (ABC) serta kecepatan pergerakan (FSN) yang dikalibrasi ke batas simpan sembilan puluh hari. Klasifikasi tersebut menghasilkan temuan yang berlawanan dengan dugaan awal: sel yang mewakili stok bermassa besar namun mandek justru kosong, karena keenam aliran Kelas-A yang menguasai 64,1% massa tersimpan seluruhnya bergerak cepat. Dengan demikian overflow disebabkan oleh aliran cepat bermassa besar, bukan oleh stok mati, sedangkan risiko umur simpan terkonsentrasi pada ekor aliran non-moving sebesar 34.666 kg atau 14,7% dari massa. Pemodelan proses bisnis dan analisis akar masalah menelusuri kedua mode kegagalan tersebut pada kelemahan proses, bukan pada sifat limbahnya. Solusi yang dihasilkan memadukan proses To-Be yang dibakukan, aturan alokasi penyimpanan sadar kapasitas yang dibatasi kompatibilitas bahaya, serta dasbor berbasis spreadsheet dengan sistem peringatan dini yang dirancang untuk mengalihkan fasilitas dari pemantauan reaktif menjadi pengendalian proaktif berbasis data.