Pertumbuhan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Indonesia menuntut
fasilitas penyimpanan sementara berizin untuk mengendalikan persediaan secara
efisien sekaligus mematuhi batas waktu simpan dan kapasitas yang ketat. PT
Limbah Lestari (nama disamarkan), sebuah fasilitas pengumpulan berizin,
menghadapi tekanan tersebut dalam bentuk zone overflow yang berulang, selisih
antara catatan dan stok fisik, serta pemantauan umur simpan yang bersifat reaktif.
Penelitian ini merancang strategi pengendalian persediaan terintegrasi berbasis
data untuk menurunkan risiko kepatuhan dan menjaga kelayakan operasional
gudang di dalam footprint izin yang ada.
Dengan desain studi kasus tunggal bermetode campuran, penelitian ini
merekonstruksi saldo harian dari data transaksi tahun 2025 atas 53 aliran limbah
dalam lingkup (sekitar 236.000 kg rata-rata on-hand) dan mengklasifikasikannya
berdasarkan massa fisik (ABC) serta kecepatan pergerakan (FSN) yang dikalibrasi
ke batas simpan sembilan puluh hari. Klasifikasi tersebut menghasilkan temuan
yang berlawanan dengan dugaan awal: sel yang mewakili stok bermassa besar
namun mandek justru kosong, karena keenam aliran Kelas-A yang menguasai
64,1% massa tersimpan seluruhnya bergerak cepat. Dengan demikian overflow
disebabkan oleh aliran cepat bermassa besar, bukan oleh stok mati, sedangkan
risiko umur simpan terkonsentrasi pada ekor aliran non-moving sebesar 34.666 kg
atau 14,7% dari massa. Pemodelan proses bisnis dan analisis akar masalah
menelusuri kedua mode kegagalan tersebut pada kelemahan proses, bukan pada
sifat limbahnya. Solusi yang dihasilkan memadukan proses To-Be yang dibakukan,
aturan alokasi penyimpanan sadar kapasitas yang dibatasi kompatibilitas bahaya,
serta dasbor berbasis spreadsheet dengan sistem peringatan dini yang dirancang
untuk mengalihkan fasilitas dari pemantauan reaktif menjadi pengendalian
proaktif berbasis data.
Perpustakaan Digital ITB