enciptaan ini merupakan upaya investigasi terhadap transformasi gunungan melalui prinsip estetik formalisme. Gunungan dipahami sebagai struktur visual yang memiliki keteraturan bentuk dan mengandung gagasan mengenai asal, perjalanan, dan kembali sebagaimana tercermin dalam konsep sangkan paraning dumadi. Ketertarikan terhadap gunungan berangkat dari pengalaman personal penulis yang tumbuh dalam lingkungan budaya Yogyakarta dan memiliki kedekatan dengan tradisi wayang serta kosmologi Jawa. Proses penciptaan dilakukan dengan mengamati gunungan sebagai susunan bentuk yang meliputi struktur segitiga, garis, bidang, warna, komposisi, dan hubungan antarunsur visual, kemudian mengolahnya melalui prinsip estetik formalisme. Landasan teori utama menggunakan pemikiran Clive Bell mengenai significant form, sedangkan pemikiran Martin Heidegger digunakan sebagai teori penunjang eksistensialisme ontologis untuk memperluas pemahaman terhadap pengalaman keberadaan yang berkaitan dengan gagasan gunungan. Proses penciptaan meliputi tahap observasi, rekoleksi, eksplorasi bentuk, dan transformasi visual. Dalam penerapannya, struktur gunungan dikembangkan melalui penyusunan modul, repetisi, pengolahan warna, serta hierarki komposisi untuk menemukan kemungkinan bentuk yang baru. Hasil penciptaan menunjukkan adanya kemungkinan transformasi gunungan melalui pengolahan hubungan antarunsur formal dengan tetap mempertahankan karakter struktural dan gagasan filosofis yang menjadi dasar penciptaan. Proses ini menghasilkan suatu bentuk pencarian artistik yang membuka kemungkinan pengembangan lebih lanjut terhadap gunungan sebagai sumber penciptaan melalui prinsip estetik formalisme.
Perpustakaan Digital ITB