Abstrak - Henrikus Williams Ko'o
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Kecerahan langit merupakan salah satu parameter penting dalam penilaian potensi
suatu lokasi sebagai destinasi astrowisata maupun lokasi observasi astronomi.
Wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Sabu, telah diidentifikasi
sebagai salah satu kandidat terbaik di Indonesia berdasarkan studi astroklimatologi
sebelumnya yang mencatat rata-rata fraksi langit cerah mencapai
75,1% pada periode 2006–2010. Penelitian ini bertujuan untuk memperbarui
dan memperdalam analisis fraksi langit cerah di Pulau Sabu menggunakan data
satelit geostasioner (MTSAT dan Himawari-8/9) dengan resolusi temporal,
mencakup periode 2014–2025 dengan data diurnal per jam.
Data yang digunakan adalah citra inframerah saluran IR1 (10,3–11,3 ?m)
dan IR3 (6,5–7,0 ?m) dari arsip GEWEX Asian Monsoon Experiment (GAME)
Universitas Kochi, Jepang, dengan resolusi spasial 1/20 derajat. Analisis
dilakukan menggunakan algoritma ambang batas suhu kecerlangan, dengan
kondisi langit cerah didefinisikan apabila IR3 > 243 K dan IR1 > 273 K. Uji
parameter BTD (Brightness Temperature Difference) turut dilakukan untuk
mengevaluasi potensi gangguan kabut, namun hasilnya tidak memberikan koreksi
yang signifikan terhadap nilai fraksi langit cerah, sejalan dengan topografi
Pulau Sabu yang datar.
Hasil analisis menunjukkan Pulau Sabu memiliki rata-rata fraksi langit
cerah tahunan sebesar 71,45% secara keseluruhan dan 68,80% khusus malam
hari, yang masih cukup sebanding dengan nilai acuan historisnya. Pola musiman
menunjukkan fraksi tertinggi pada musim kemarau (Mei–Oktober) mencapai
90,15% secara keseluruhan dan 88,60% pada malam hari, sedangkan nilai
terendah terjadi pada musim hujan (Desember–Maret) yakni 43,11% secara
keseluruhan dan 39,32% pada malam hari, dengan pola yang konsisten sepanjang
2014–2025. Sebagai parameter komplementer, pengukuran kecerlangan
langit in-situ menggunakan Sky Quality Meter turut dilakukan untuk menilai
kualitas langit malam di beberapa titik observasi. Hasil ini menegaskan Pulau
Sabu sebagai lokasi yang potensial secara klimatologis untuk pengembangan
destinasi astrowisata maupun fasilitas observasi astronomi di masa mendatang.
Perpustakaan Digital ITB