Penelitian ini berfokus pada transformasi elemen-elemen fasad utama rumah Kalang di Pulau Jawa dan Bali sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, dengan fasad utama sebagai unit analisis yang merepresentasikan pengetahuan membangun masyarakat Kalang. Transformasi fasad utama membuka ruang kajian kritis mengenai kontinuitas dan diskontinuitas elemen arsitektural dalam lintasan sejarah. Konsep transformasi dipahami sebagai proses perubahan yang berlangsung melalui interaksi antara dinamika internal dan eksternal dari faktor pembentuknya. Fasad utama, sebagai elemen arsitektur yang berada di antara ranah privat dan publik, tidak hanya berfungsi sebagai batas fisik, tetapi juga sebagai medium komunikasi arsitektural yang dapat mengartikulasikan identitas sosial, ideologi, dan pemikiran pada setiap zaman, sekaligus merefleksikan strategi adaptasi masyarakat vernakuler dalam merespons perubahan budaya dan lingkungan.
Masyarakat Kalang sebagai pembangun rumah Kalang, merupakan sub-etnis di pulau Jawa dan Bali yang dikenal memiliki keahlian dalam bidang perkayuan, pembangunan, serta niaga. Meski di beberapa wilayah masyarakat Kalang dipandang sebagai kelompok marginal, jejak eksistensinya dapat ditelusuri sejak abad ke-9 Masehi melalui prasasti yang mencatat peran mereka berkaitan dengan bangunan. Salah satu bukti tertua adalah Inskripsi Kuburan Candi yang berangka tahun 753 Saka (831 M) dan Prasasti Papringan yang berangka tahun 804 Saka (882 M), yang menyebut pejabat pedesaan (wanua) yang berpangkat “Kalang” sebagai orang yang berkewajiban memimpin masyarakat setempat dalam urusan bangunan. Pada akhir abad ke-19 M, keahlian dan pengetahuan membangun mereka dikodifikasikan ke dalam Serat Kawruh Kalang, sebuah manuskrip yang digunakan sebagai panduan membangun rumah tradisional Jawa, yang kini tersimpan di Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, serta di Museum Radya Pustaka, Surakarta.
Pada masa pemerintahan kolonial di Pulau Jawa, masyarakat Kalang berperan sebagai pengelola hutan serta pemasok bahan baku berupa kayu, sebagaimana tercatat dalam Plakaatboek yang dituliskan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Peran ini memperlihatkan keterhubungan mereka dengan sistem ekonomi kolonial sekaligus memperkuat posisi mereka sebagai penyedia material konstruksi. Dalam rentang waktu yang panjang, karakteristik arsitektur rumah Kalang terus bertransformasi. Sebagai masyarakat vernakuler, mereka menunjukkan pola kehidupan yang berhubungan dengan keterpencilan, memiliki adat istiadat yang berorientasi kepada alam, pemanfaatan sumber daya alam, serta kemampuan mengoptimalisasi keterampilan dan pengetahuan membangun dalam beradaptasi melewati berbagai zaman. Keahlian kelompok Kalang tidak hanya berkaitan dengan konstruksi fisik, tetapi juga sebagai bagian dari sistem tatanan sosial dan budaya yang mengatur keberlangsungan masyarakat Kalang secara organik. Jejak kesejarahan ini teridentifikasi melalui arsitektur rumah Kalang yang masih bertahan sejak abad ke?17 hingga awal abad ke?20.
Disertasi ini bertujuan untuk: (1) memetakan jejak daerah persebaran permukiman masyarakat Kalang di Jawa dan Bali; (2) mengidentifikasi bangunan serta ragam elemen, material, dan ornamentasi fasad utama rumah Kalang; dan (3) mengungkap pola transformasi fasad utama serta faktor dominan yang memengaruhi karakteristiknya lintas waktu dan tempat. Kajian ini dirancang untuk mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai spektrum jejak persebaran masyarakat Kalang, data empirik berkaitan dengan arsitektur Kalang, serta transformasi fasad utama hunian mereka, yang hingga kini belum menjadi fokus kajian arsitektur tersendiri.
Metode penelitian bersifat kualitatif dengan mengintegrasikan strategi naratif dan pendekatan historis. Fasad utama dijadikan objek formal untuk menelusuri pola transformasi, sementara rumah Kalang dijadikan objek material. Data dikumpulkan melalui triangulasi: studi literatur (artikel ilmiah, naskah akademik, laporan arkeologis, manuskrip), observasi lapangan dilakukan dengan metode kasus bertujuan (purposive cases), serta wawancara mendalam (in-depth interview) dengan keturunan masyarakat Kalang dan ahli terkait. Hal ini sesuai dengan strategi naratif-historis, bukti penelitian yang dikumpulkan berupa bukti determinatif (arsip), kontekstual dan rekolektif (wawancara), serta inferensial (observasi lapangan). Data yang telah dihimpun kemudian dianalisis menggunakan pendekatan diakronik dan sinkronik dengan menggunakan triangulasi metode, yaitu metode pemetaan, metode kodifikasi, dan metode linimasa. Bentuk analisis berupa analisis per-kasus (within case) serta antar-kasus (cross-cases). Hasil analisis berupa: (1) pemetaan jejak daerah persebaran permukiman masyarakat Kalang di Pulau Jawa dan Bali; (2) kodifikasi elemen-elemen arsitektur pada fasad utama rumah Kalang di Pulau Jawa dan Bali; dan (3) linimasa transformasi elemen-elemen fasad utama.
Temuan penelitian mengungkap bahwa fasad utama rumah Kalang mempertahankan sejumlah teknik konstruksi tradisional sekaligus mengalami transformasi pada susunan elemen struktural, perubahan material, dan ornamentasi sepanjang periode kajian. Transformasi elemen arsitektur rumah Kalang pada setiap daerah mengartikulasikan dinamika budaya hunian yang berlangsung secara berkesinambungan, sekaligus menunjukkan adanya perubahan kontekstual dalam lintasan waktu. Fasad utama rumah Kalang terbukti menjadi locus penting dalam membaca transformasi pengetahuan membangun: dari representasi tradisi lokal menuju hibridisasi, hingga menjadi medium ekspresi identitas sosial dan budaya.
Hasil penelitian Disertasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kajian arsitektur vernakuler di Nusantara dengan menempatkan fasad utama rumah Kalang sebagai artefak pengetahuan yang hidup. Hasil penelitian diharapkan dapat membuka ruang dialog mengenai peran masyarakat Kalang sebagai kelompok vernakuler yang berkontribusi dalam pembangunan dan perkembangan arsitektur tradisional, serta memperkaya diskursus dekolonisasi arsitektur dengan menyoroti transformasi fasad sebagai medium komunikasi budaya.
Perpustakaan Digital ITB