Sebagai salah satu pelabuhan jalur rempah utama pada abad ke-17 di Jawa Timur, Gresik mengembangkan permukiman pesisir dengan bangunan saudagar yang menjadi bukti fisik integrasi budaya global. Penelitian ini menyelidiki bagaimana hierarki sosial pedagang Arab, Tionghoa, dan Eropa termanifestasi dalam arsitektur bangunan mereka. Bangunan saudagar di Gresik diduga merupakan produk dari interaksi hibriditas yang intens selama era perdagangan rempah. Penelitian ini bertujuan menyelidiki korelasi antara struktur sosial pedagang (Arab, Tionghoa, Eropa) dan karakter fisik arsitektur mereka, dengan fokus pada perubahan yang terjadi dalam perwujudan bangunan di kota lama pelabuhan Gresik saat ini. Pendekatan penelitian ini melihat dinamika perubahan dari masa ke masa mengenai perubahan fungsi dan fasad bangunan yang dibaca dari sudut pandang adaptasi arsitektur. Penelitian ini menghasilkan pemahaman identitas kultural dan perubahan yang termanifestasi dalam desain bangunan, serta keterbacaan perwujudan karakter Bangunan dan pola Bangunan saudagar di Kawasan Kota Lama Gresik. Signifikansi akademik penelitian ini terletak pada integrasi perspektif arsitektur dan sejarah maritim untuk mengisi celah literatur tentang multikulturalisme dalam konteks rumah saudagar di Gresik pada periode perdagangan rempah awal di Nusantara.
Perpustakaan Digital ITB