digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Zacky Silva Faried Putra
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Perkembangan pesat wilayah metropolitan Bandung menempatkan mobilitas dan konektivitas regional menjadi sebuah isu yang krusial. Kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya transmigrasi membuat kapasitas infrastruktur transportasi perlu ditingkatkan. Salah satunya yaitu terminal bus yang menampung moda transportasi yang penting bagi Kota Bandung. Keberadaan terminal menjadi pendukung dan berperan vital sebagai simpul transportasi baik antar provinsi, kota, maupun desa. Salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung adalah Terminal Leuwipanjang yang merupakan terminal tipe A dan menjadi pintu masuk bus dari arah barat. Terminal in melayani angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), angkutan dalam kota, dan angkutan pedesaan. Sebagai infrastruktur vital, terminal bus masih menghadapi beberapa persoalan seperti fenomena banjir yang menggangu operasional, kurangnya perkembangan fasilitas dan persepsi masyarakat terhadap terminal yang cenderung negatif. Terminal Leuwipanjang berlokasi di Kelurahan Situsaeur, Kecamatan Bojongloa Kidul yang termasuk kecamatan dengan kerentanan banjir sekitar 7.35% total lahan termasuk daerah bahaya bnjir. Permasalahan banjir dapat disebabkan karena curah hujan yang tinggi, kurangnya resapan air, drainase kurang baik, ataupun dominasinya perkerasan pada tipologi terminal. Kondisi ini pula yang dapat mengakibatkan pada persoalan kedua yaitu persepsi masyarakat terhadap terminal sebagai tempat yang kurang baik, kumuh, tidak sehat, dan penuh asap. Persepsi masyarakat dapat berujung pada menurunnya pengguna terminal. Untuk menanggapi tantangan terkait Terminal Leuwipanjang, perancangan ulang terminal dilakukan dengan menempatkan terminal bukan hanya sekedar tempat bus datang dan pergi tetapi terminal memiliki makna dan fungsi yang lebih besar. Penerapan konsep dengan menghubungkan tiga konsep besar terminal sebagai simpul kota, resapan kota, dan ruang ketiga. Proses perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis kondisi eksisting, dan studi preseden terminal. Hasil dari proses ini yaitu konsep perancangan yang berfokus pada integrasi fungsi transportasi yang efisien dalam meningkatkan konektivitas sesuai dengan fungsi utamanya sekaligus membawa unsur keberlanjutan lingkungan dan membawa funsi baru yang meningkatan persepsi posifitif masyarakat terhadap terminal. Perancangan bertukuan untuk mentransformasikan terminal sebagai hub transportasi multimoda yang efisien, mengembangkan funsi terminal sebagai ruang publik inklusif (ruang ketiga) yangn mampu mewadahi kehidupan sosial masyarakat, dan infrastruktur yang berorientasi pada mitigasi banjir yang sering terjadi melalui strategi water sensitive urban design.