digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kemajuan teknologi informasi yang pesat telah membawa masyarakat ke era hiper-konektivitas dan ekonomi berbasis data, yang ditandai dengan peningkatan eksponensial dalam produksi dan transmisi konten multimedia. Meskipun kemajuan ini mempermudah distribusi informasi, tantangan besar muncul dalam menjaga integritas, keaslian, dan perlindungan hak cipta data digital. Teknik digital watermarking menjadi solusi penting dalam menjaga keamanan konten multimedia melalui penyematan informasi tersembunyi secara imperseptibel. Namun, metode tradisional sering menghadapi dilema antara imperceptibility, robustness, dan reversibility, yang membatasi penerapannya dalam bidang sensitif seperti pencitraan medis dan autentikasi forensik. Penelitian terdahulu, Wang meyakini bahwa untuk menghindari kompromi atau interferensi mutual antara tahap robust dan reversible, domain penyematan data harus dipisahkan secara independen (Independent Embedding Domain atau IED). Asumsi ini menyebabkan meningkatnya kompleksitas komputasi dan keterbatasan efisiensi sistem. Penelitian ini mengajukan teknik watermarking yang robust dan reversibel berbasis dua tahap dengan domain penyematan non-independen (Two-Stage Robust Reversible Watermarking with Non-Independent Embedding Domains atau TSRRW-NIED). Metode yang diusulkan mengintegrasikan proses penyematan watermark robust dan reversible pada domain yang sama melalui pendekatan non-independent embedding domain (NIED), sehingga mampu mengurangi kompleksitas sistem tanpa mengorbankan kualitas citra maupun ketahanan watermark. Pengembangan metode dilakukan melalui analisis teoretis, perancangan algoritme, implementasi sistem, serta pengujian eksperimental menggunakan berbagai skenario serangan digital yang umum digunakan dalam evaluasi watermarking. Hasil pembuktian teoritis dan empiris menunjukkan bahwa penggunaan domain penyematan yang tidak independen tidak menimbulkan degradasi kinerja yang signifikan sebagaimana diasumsikan pada penelitian terdahulu. Efisiensi komputasi dan ketahanan (robustness) dapat dicapai dalam satu domain yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode TSRRW-NIED mampu mempertahankan kualitas citra yang tinggi dengan nilai Peak Signal-to-Noise Ratio (PSNR) yang secara konsisten lebih baik dibandingkan sejumlah metode mutakhir sejenis. Selain itu, watermark yang disisipkan memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap serangan kompresi JPEG dan Additive White Gaussian Noise (AWGN), serta tetap mempertahankan kemampuan pemulihan citra asli secara sempurna saat tanpa serangan. Analisis statistik lebih lanjut membuktikan bahwa parameter kekuatan penyematan, kapasitas penyematan, dan karakteristik variansi lokal berpengaruh signifikan terhadap akurasi ekstraksi watermark dan stabilitas performa sistem. Kebaruan utama penelitian ini terletak pada formulasi dan pembuktian konsep Non-Independent Embedding Domain (NIED) dalam sistem robust reversible watermarking dua tahap, yang menantang paradigma konvensional mengenai keharusan pemisahan domain penyematan. Dari perspektif akademik, penelitian ini memperluas landasan teoretis dalam bidang information hiding dengan menunjukkan bahwa independensi domain bukan merupakan syarat mutlak untuk meminimalkan interferensi antara proses robust dan reversible watermarking. Dari perspektif praktis, penelitian ini menghasilkan model watermarking yang lebih sederhana, efisien, dan memiliki overhead komputasi yang lebih rendah dibandingkan pendekatan berbasis IED. Metode yang diusulkan berpotensi diterapkan pada perangkat dengan sumber daa terbatas, seperti perangkat medis portable, sensor Internet of Things (IoT), sistem pengawasan cerdas, dan aplikasi multimedia real-time. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang keamanan multimedia digital.