Abstrak_Shinta Maharani Damarsakura
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Indonesia, negara dengan beribu pulau yang juga diiringi beragamnya suku, bangsa, dan budaya, tidak mengherankan jika negara ini diakui dalam kancah internasional. Tiap daerah mempunyai ciri khas yang menguatkan identitas antar satu daerah dengan lainnya. Ragamnya suku di Indonesia, salah satunya, suku Sunda, suku dengan kelompok etnis terbesar di Indonesia yang menempati daerah Jawa Barat. Keanekaragaman budaya serta nilai filosofis berusaha untuk diwariskan turun menurun oleh masyarakat setempat, tepatnya masyarakat pedesaan suku Sunda. Namun, lain halnya dengan perkembangan budaya Sunda di perkotaan, yang semakin redup dan terancam. Sebagian besar masyarakat, terutama generasi muda, beranggapan bahwa budaya tradisional itu “kuno” dan “tidak relevan” dengan kehidupan masa kini. Kondisi ini ini bukan lagi dipicu oleh minimnya informasi, melainkan wadah yang tersedia kurang mampu mengimbangi kebutuhan Masyarakat terkini, hanyalah sebuah ruang yang pasif, tertutup, dan aktif pada waktu tertentu, seolah membatasi interaksi antar pengunjung dengan budaya yang ditawarkan.
Lebih dari sekedar wadah pertunjukkan, ruang budaya juga berperan sebagai ruang publik yang mampu membentuk keterikatan emosional serta pengalaman ruang yang berkesan. Hal tersebut diwujudkan melalui ruang yang mampu mewadahi, bahkan berinteraksi, baik dengan kebutuhan fisik maupun psikis penggunanya. Melalui kedua pendekatan desain, Interactive Environment dan Immersive Folk Narrative, memperkuat terciptanya pengalaman imersif pada bangunan. Pendekatan tersebut mengolah arsitektur menjadi lebih “hidup” bukan hanya penghubung antar fungsi bangunan, melainkan mampu merespons kehadiran dan emosi pengguna, serta menciptakan ikatan yang menyeluruh.
Konsep perancangan didukung melalui teori Paparakoan Lembur yang turut menerapkan prinsip Sunda; Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh. Ketiga prinsip tersebut menitikberatkan pada nilai pembelajaran, kepedulian, serta kebersamaan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Prinsip tersebut direalisasikan melalui pengadaan zona tahapan, diawali dengan zona kolektif, zona sosial, zona transisi, dan kembali pada zona transformasi. Selain, fungsi utama bangunan sebagai pusat pertunjukkan budaya Sunda, bangunan juga berperan sebagai ruang publik yang mewadahi interaksi, kolaborasi, dan kegiatan sosial melalui amphitheatre terbuka, workshop budaya, galeri, dan area pendukung lainnya. Konsep blurring spatial boundaries tercipta melalui pengalaman budaya yang lebih hidup dan partisipatif dengan peniadaan batas antar pengunjung dengan lingkungan yang tersedia.
Menargetkan masyarakat lokal dan wisatawan pendatang, rancangan ini akan berlokasi di Jl. Cigadung Raya Barat, Kota Bandung. Tapak ini strategis, berada di kawasan dengan karakter lingkungan yang masih memiliki korelasi erat antara lanskap alami dengan aktivitas perkotaan. Lokasi tapak juga berada di jalur utama sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk mengakses bangunan. Serta, kondisi kontur existing yang berundak berpotensi dalam pembentukan pengalaman ruang secara bertahap. Rencana pemerintah setempat untuk mengembangkan kawasan ini sebagai area pariwisata juga akan didukung oleh penetapan bangunan ini ke dalam tapak. Metode penelitian pada perancangan ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, analisis preseden, observasi lapangan, dan studi perilaku pengguna.
Rancangan ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan Pendidikan Berkualitas (SDG 4) melalui pengalaman edukasi budaya yang interaktif dan imersif. Selain itu, rancangan juga terlibat dalam upaya Mengurangi Ketimpangan (SDG 10) melalui pemberdayaan masyarakat lokal sebagai motor penggerak aktivitas di dalamnya. Rancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif pendekatan baru dalam pelestarian budaya Sunda melalui ruang pertunjukan yang lebih adaptif dan relevan akan kebutuhan masyarakat masa kini. Pada akhirnya, studi ini bertujuan dalam menghadirkan pengalaman yang membangkitkan emosi (evokes emotions), membentuk perjalanan ruang mendalam (creates an immersive journey), serta meninggalkan kesan membekas bagi pengunjung (leaves lasting impression).
Perpustakaan Digital ITB