Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, mengalami kebuntuan ekspansi kota yang berkepanjangan pascabencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi tahun 2018, yang merusak identitas spasial kota sekaligus memperkuat konsentrasi fungsi perkotaan di kawasan selatan. Di sisi lain, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) 2023–2043 telah menetapkan Tondo-Talise sebagai lokasi Pusat Pelayanan Kota baru, namun kepadatan penduduk dan kelengkapan fasilitas kawasan belum memungkinkan perwujudannya secara penuh. Oleh karena itu, perancangan ini menggunakan pendekatan infill development dengan memanfaatkan lahan yang belum termanfaatkan secara optimal di dalam jaringan kota yang sudah terbangun, untuk membentuk Activity Centre sebagai fase awal Pusat Pelayanan Kota yang realistis, sekaligus memastikan lokasi terpilih aman dari Zona Rawan Bencana tingkat tinggi. Dengan metode fragmental process, penelitian ini mengintegrasikan analisis spasial multikriteria berbasis GIS dengan analisis driving force multiskala (makro, meso, mikro) untuk menentukan lokasi infill optimum seluas 177,18 hektare sekaligus merumuskan prinsip perancangan normatif yang mencakup struktur urban, mobilitas, ruang publik, ekonomi lokal, dan hunian tangguh bencana. Sebagai respons desain, dirumuskan konsep “Rising from the Ridge” melalui tiga subtema Resilient, Common Needs, dan Hillside yang menerjemahkan kontur tapak menjadi tiga karakter ruang (Pulse, Breath, dan Serenity), dengan memperlakukan zona rawan bencana tingkat tinggi sebagai batasan mutlak perancangan. Strategi perancangan diwujudkan melalui rencana zonasi mixed-use yang terdiri atas zona Civic Core (37,91 ha), Urban Settlement (30,76 ha), dan Commercial Buffer (12,41 ha) pada 81,08 hektare lahan buildable, sementara area berkontur curam dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau dan kawasan konservasi. Strategi ini disimulasikan secara detail pada Blok Civic Core, yang menunjukkan integrasi fungsi mixed-use, komersial, fasilitas publik, dan perkantoran dengan intensitas bangunan bertingkat, sistem sirkulasi, ruang terbuka hijau, dan titik evakuasi. Rancangan yang dihasilkan mentransformasikan kawasan terdampak bencana yang belum termanfaatkan menjadi pusat aktivitas baru yang tangguh dan inklusif, memulihkan identitas spasial masyarakat yang hilang tanpa memerlukan perluasan lahan baru di luar batas terbangun kota.
Perpustakaan Digital ITB