Abstrak_Zahra Firdausya
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Bandung merupakan Kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi yang didominasi oleh penduduk usia produktif. Berdasarkan data terbaru dari BPS (tahun 2024-2025), sekitar 65.62% atau sekitar 1.69 juta orang merupakan penduduk usia produktif di Bandung. Banyaknya jumlah penduduk ini perlu diwadahi dalam suatu ruang publik yang mendukung produktivitas dan tetap mementingkan kesejahteraan pengguna di dalamnya. Pertumbuhan minat baca penduduk indonesia juga ditandai dengan munculnya berbagai perpustakaan independen dan ruang baca swasta. Perkembangan minat baca dan produktivitas yang tidak diwadahi dalam ruang publik yang memadai ini kemudian memberikan celah bagi komersialisasi ruang publik dan pada akhirnya tidak inklusif.
Dalam tugas akhir ini, solusi ruang yang diajukan adalah sebuah bangunan perpustakaan publik yang mampu mendefinisikan ulang konsep kaku perpustakaan konvensional atau pemahaman awam bahwa perpustakaan hanya sebagai gudang buku. Perpustakaan memiliki fungsi lain sebagai ruang rekreasi edukatif. Oleh karena itu, bangunan perpustakaan publik dalam tugas akhir ini juga difungsikan sebagai informal learning space.
Dalam sintesisnya digunakan konsep experiential design schemas. Kerangka kerja ini menjadi alat untuk mengimplementasikan data spasial dan konsep yang ingin diterapkan ke dalam elemen arsitektural dengan melakukan gubahan dalam lima kelompok besar skema: kontras, gradient, flux, rhythm, dan sequence. Konsep-konsep dalam skema ini diterapkan untuk menghasilkan proses multisensori pada indra penerima dan menghasilkan pengalaman dalam penggunaan ruang.
Perpustakaan publik dengan fungsi informal learning space ini mengorganisasikan elemen alami (angin dan cahaya matahari) dengankonsep dalam experiential design schemas sehingga bangunan dapat menjadi membran yang memfasilitasi interaksi antara pengguna dan elemen alami untuk meningkatkan kesejarhteraan pengguna. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai utama dan rooftop. Lantai 1 merupakan area publik dengan cafe, lantai 2 berisi ruang baca dan ruang diskusi terbuka, serta lantai 3 berisi ruang baca dan lebih banyak ruang bersekat untuk privasi dan abience(ruang diskusi tertutup, pod individu, dan ruang multimedia). Ketiga lantai ini dihubungkan dengan satu elemen kunci dari konsep arsitektural yang digunakan, yaitu tangga multisensori. Kesimpulannya, bangunan perpustakaan publik dengan konsep eksperiensial desain skema ini mendemonstrasikan pendekatan konsep multisensori yang mampu meningkatkan kualitas belajar dan kesejahteraan pengguna di ruang publik yang dinamis.
Perpustakaan Digital ITB