digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Salah satu potensi kekayaan sumber daya alam yang dimiliki indonesia adalah felspar. Keberadaan felspar di Indonesia cukup banyak antara lain di Banjar dan Lampung. Felspar merupakan bahan baku utama dalam industri keramik dan kaca, namun sebagian besar dari industri keramik yang ada di Indonesia lebih memilih mengimpor felspar dari luar negeri sebagai bahan baku. Hal ini disebabkan hasil tambang felspar Indonesia belum memenuhi syarat standar sebagai bahan baku dalam pembuatan keramik. Dimana felspar Indonesia masih memiliki kandungan mineralmineral pengotor seperti oksida besi yang relatif masih tinggi sehingga industri keramik lebih memilih felspar impor daripada menggunakan felspar lokal. Dalam industri keramik felspar berfungsi sebagai bahan pelebur dan perekat dalam proses pembakaran keramik. Pengotor seperti besi sangat tidak diinginkan karena akan mengakibatkan perubahan warna pada badan keramik apabila kadarnya terlalu tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian agar bahan baku lokal dapat memenuhi permintaan industri dalam negeri dan menekan impor felspar. Dalam penelitian ini, pengurangan kadar Fe2O3 terhadap felspar asal Lampung dan Banjar menggunakan reverse flotation. Pada proses flotasi dihasilkan konsentrat dan tailing, mineral-mineral pengotor seperti oksida besi diapungkan sebagai tailing (apungan) sedangkan mineral felspar berada pada fraksi endapan atau konsentrat. Flotasi dilakukan pada fraksi ukuran -200+325 mesh dengan kondisi variasi variabel pH (3, 4, 5, dan 6), dosis kolektor (150, 200, 250, dan 300 gr/ton), dan persen solid (20, 25, 30, dan 35%). Karakterisasi terhadap sampel awal felspar dilakukan dengan analisis mikroskopi, XRD, dan XRF. Konsentrat dan tailing yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan AAS dan XRF untuk mengetahui besarnya kandungan Fe total dan recovery dari masing-masing felspar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengurangan kadar Fe2O3 terbaik diperoleh pada pH 4, dosis kolektor 200 gr/ton,dan 35% solid untuk felspar asal Lampung.Sementara felspar asal Banjar, hasil terbaik diperoleh pada pH 5, dosis kolektor 300 gr/ton, dan 25% solid. Proses flotasi ini cukup efektif dilakukan terhadap Felspar asal Lampung dan Banjar untuk menurunkan kadar oksida besi sehingga dapat mengurangi impor bahan baku keramik. Penurunan kadar Fe2O3 pada felspar asal Lampung dapat dilakukan sampai kadar Fe2O3 0,045% pada konsentrat (endapan) dari kadar Fe2O3 umpan 0,415%. Kadar felspar juga meningkat dari 43,02% menjadi 72,98% dengan recovery 66,05% . Sedangkan felspar asal Banjar kadar Fe2O3 dapat diturunkan sampai 0,10% pada konsentrat (endapan) dari kadar Fe2O3 umpan 0,701%. Adapun kadar felspar juga meningkat dari 46,01 menjadi 68,25% dengan recovery 55,99.