Nitrogen dan fosfor merupakan nutrien yang penting, namun dapat menyebabkan eutrofikasi dan pencemaran pada badan air apabila berlebih di alam. Salah satu sumber air limbah yang banyak mengandung nutrien adalah limbah cair peternakan. Nutrien ini dapat di pulihkan dalam bentuk struvite untuk meringankan beban pencemaran dalam air limbah. Elektrokoagulasi menggunakan anoda magnesium Alloy AZ31B menjadi metode yang efisien karena tidak memerlukan penambahan bahan kimia dan berlangsung dengan durasi relatif singkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kerapatan arus dan mode operasi arus terhadap kinerja elektrokoagulasi dalam penyisihan nutrien serta pembentukan struvite serta menentukan kondisi operasi optimum berdasarkan efisiensi penyisihan dan konsumsi energi. Penelitian digunakan menggunakan reaktor elektrokoagulasi berkapasitas kerja 1,5 L dengan anoda magnesium Alloy AZ31B dan katoda grafit menggunakan air limbah artifisial yang merepresentasikan karakteristik air limbah peternakan sapi aktual. Variasi kerapatan arus (1; 2,5; 5; 7,5; dan 10 mA/cm²) diuji terlebih dahulu untuk menentukan nilai optimum, dilanjutkan dengan variasi mode operasi arus kontinu dan berseleang (siklus kerja 10%, 30%, 50%, dan 70%). Evaluasi dilakukan melalui pengukuran perubahan pH, konsentrasi fosfat, amonium, magnesium, konsumsi energi, simulasi termodinamika menggunakan Visual MINTEQ 3.1, serta karakterisasi presipitat menggunakan SEM, XRD, dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan arus 2,5 mA/cm² dan siklus kerja 50% merupakan kombinasi paling optimum, dengan efisiensi penyisihan fosfat mencapai 89,49% dan penggunaan energi yang jauh lebih rendah dibandingkan variasi kerapatan arus atau siklus kerja yang lebih tinggi. Hasil uji SEM, XRD, dan FTIR mengonfirmasi terbentuknya kristal struvite pada presipitat yang dihasilkan dari proses elektrokoagulasi.
Perpustakaan Digital ITB