digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Fatiha Izza Tunisa
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Cahaya bintang seringkali tidak sampai sepenuhnya ke pengamat akibat ekstingsi yang disebabkan oleh penyerapan dan hamburan oleh debu antarbintang, yang sifat fisiknya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Pada lingkungan berkerapatan tinggi seperti awan molekuler, ekstingsi optik hingga ultraviolet meningkat tajam sehingga bintang latar belakang sulit diamati, sementara pengamatan inframerah tetap dapat menembus daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan mengukur dan membandingkan karakteristik ekstingsi inframerah pada dua subregion di Awan Molekuler Ophiuchus, yaitu L1688 (wilayah pembentukan bintang aktif, berkerapatan tinggi) dan L1689 (wilayah rapat dengan aktivitas pembentukan bintang jauh lebih rendah), menggunakan data near-infrared (NIR) dari UKIDSS GCS DR11PLUS dan mid-infrared (MIR) dari Spitzer c2d yang telah dibersihkan dari kontaminasi young stellar objects (YSO) dari katalog Grasser dkk. (2021). Hukum ekstingsi ditentukan melalui metode Color Excess Ratio (CER), dengan kemiringan diagram warna-warna diperoleh melalui regresi kuadrat terkecil (OLS) dan pemotongan pencilan iteratif 3?, yang dipilih setelah dibandingkan dengan tiga metode alternatif (WLS, ODR, dan regresi Bayesian MCMC). Pada L1688, diperoleh ? = 2.139 ± 0.079 dan AJ/AK = 3.323 ± 0.148, sedangkan pada L1689 diperoleh ? = 2.359 ± 0.047 dan AJ/AK = 3.760 ± 0.098. Hukum ekstingsi L1689 secara konsisten lebih curam daripada L1688 pada keseluruhan rentang inframerah: AJ/AK L1689 sekitar 13% lebih tinggi daripada L1688 pada NIR (? 2.5?), dan A?/AK L1689 lebih rendah hingga lebih dari 70% pada pita [8.0] ?m (? 4?), mengindikasikan populasi butir debu L1689 yang berukuran lebih kecil. Perbandingan dengan literatur menunjukkan L1688 konsisten dengan lingkungan awan padat lain, sementara L1689 menyimpang lebih jauh, mengindikasikan bahwa “anomali” ekstingsi Ophiuchus yang dilaporkan sejak Flaherty dkk. (2007) kemungkinan didominasi oleh L1689. Hasil A?/AK juga terbukti sensitif terhadap nilai AJ/AK acuan (pergeseran hingga 486% pada L1689), menegaskan pentingnya AJ/AK yang diturunkan secara self-consistent dari data sendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa karakteristik ekstingsi inframerah Ophiuchus tidak seragam bahkan pada skala subregion yang berdekatan, mencerminkan variasi lokal sifat debu yang berkaitan dengan perbedaan kerapatan dan aktivitas pembentukan bintang.