Stellar mass, yaitu massa total dari populasi bintang pada sebuah galaksi,
merupakan parameter penting untuk menelusuri pertumbuhan dan evolusi
galaksi. Survei Euclid akan menghasilkan citra dalam jumlah sangat besar,
sehingga analisis rinci berbasis spectral energy distribution untuk setiap objek
tidak selalu efisien sebagai tahap awal. Penelitian ini menguji Vision Transformer
(ViT) sebagai penaksir awal stellar mass dari citra Euclid dan menilai
manfaat prapelatihan self-supervised dibandingkan pelatihan fully supervised
dari inisialisasi acak.
Model diuji pada sampel galaksi Euclid dengan stellar mass acuan dari
katalog DESI. Model dengan prapelatihan self-supervised mencapai MAE 0,283
dex, RMSE 0,440 dex, dan R2 = 0, 739. Model pembanding yang dilatih secara
fully supervised memperoleh MAE 0,384 dex, RMSE 0,580 dex, dan R2 = 0, 546.
Dengan demikian, prapelatihan pada citra Euclid menurunkan MAE sebesar
26,3% dan RMSE sebesar 24,1%. Keunggulan tersebut muncul pada seluruh
rentang redshift yang diuji, dengan hasil terbaik pada 0,20 < z < 0,75 dan
penurunan performa yang jelas pada z > 1.
Uji tambahan terhadap kestabilan prediksi pada tingkat populasi menghasilkan
cakupan empiris 68,5% untuk interval prediksi nominal 68%. Namun,
cakupan tersebut menurun pada redshift tinggi sehingga tidak ditafsirkan sebagai
galat individual setiap galaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
representasi self-supervised dapat digunakan sebagai first-pass stellar mass
estimator untuk membantu penyaringan sampel galaksi Euclid, penentuan prioritas
analisis, dan penyediaan estimasi stellar mass awal sebelum pemodelan
SED yang lebih lengkap. Penggunaan untuk kajian populasi, seperti stellar
mass function, tetap memerlukan kalibrasi model dan koreksi kelengkapan data
galaksi
Perpustakaan Digital ITB