digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan pesat inklusi keuangan digital di Indonesia telah melampaui laju literasi keuangan, sehingga siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta terpapar perilaku keuangan berisiko, termasuk pinjaman online (pinjol), baik legal maupun ilegal, serta judi online (judol). Penelitian ini mengeksplorasi kerentanan keuangan dan perilaku keuangan berisiko di kalangan siswa SMK swasta di Kota Bandung melalui perspektif staf sekolah, yang memahami situasi namun jarang diteliti, berada di antara siswa dan ekosistem keuangan yang lebih luas. Dengan menggunakan Soft Systems Methodology (SSM) hingga Tahap 6, penelitian ini melakukan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan staf di lima institusi SMK swasta, dilengkapi survei deskriptif. Temuan menunjukkan keterlibatan judol pada siswa terkonfirmasi di tiga dari lima sekolah, sementara pinjol lebih banyak ditemukan pada staf dan orang tua daripada siswa. Staf mengidentifikasi pembedaan kebutuhan dan keinginan sebagai titik ajar yang berulang, lebih sering dipahami secara kognitif daripada dipraktikkan. Kerentanan keuangan ditemukan meluas melampaui siswa hingga ke staf dan keluarga mereka sendiri, dengan konsekuensi seperti kerusakan riwayat kredit dan perubahan klasifikasi kesejahteraan yang baru terlihat setelah kerugian terjadi. Penyusunan temuan melalui Actor-Relationship Diagram, Root Definition, dan Conceptual Model mengungkapkan staf secara konsisten bersedia menangani kerentanan keuangan, namun kekurangan akses kurikulum, kemitraan institusional, dan pelatihan, bukan motivasi. Perbandingan model dengan kondisi nyata menghasilkan rekomendasi topik modul literasi keuangan seperti pembedaan kebutuhan-keinginan, risiko produk legal, dan pelatihan staf sebagai prasyarat konten siswa. Temuan ini menawarkan panduan berbasis masukan staf sekolah untuk merancang intervensi literasi keuangan dalam konteks pendidikan vokasi Indonesia.