digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri hulu migas Indonesia menghadapi tantangan dalam mempertahankan produksi dari berbagai lapangan tua, di mana kehilangan produksi memperburuk penurunan alamiah reservoir. Dengan demikian, keandalan sistem pengangkatan buatan dan fasilitas permukaan pendukung diperlukan untuk menjaga kelangsungan produksi. Lapangan Jatibarang merupakan salah satu lapangan tua, dan sumur ESP adalah kontributor utama produksi minyak. Produksi semeseter pertama 2025 berada di bawah target dan terpengaruh oleh Loss Production Opportunity (LPO). Karena sebagian besar kehilangan produksi terkait ESP dapat dikendalikan, mengurangi LPO adalah tantangan teknis dan manajerial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi masalah utama penyebab LPO terkait ESP, menemukan akar penyebabnya, mengembangkan alternatif yang sesuai, dan memilih solusi yang paling tepat untuk meningkatkan keandalan produksi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Data primer dan sekunder dikumpulkan dari laporan produksi, catatan Low & Off, data operasional, survei pemangku kepentingan, wawancara, Focus Group Discussions (FGD), dan penilaian Subject Matter Expert (SME). Analisis data produksi dan LPO memungkinkan untuk mengidentifikasi sumber utama kehilangan produksi. Penyebab utama diidentifikasi melalui analisis masalah Kepner-Tregoe, survei pemangku kepentingan, analisis tulang ikan, dan diskusi ahli. Alternatif yang layak dikembangkan melalui Value-Focused Thinking (VFT) dan Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mengevaluasi dan memberi peringkat alternatif sesuai dengan kriteria bisnis dan operasional. Analisis menunjukkan bahwa penyebab utama LPO terkait ESP adalah kegagalan pada sistem permukaan, terutama dipicu oleh gas basah pada generator mesin gas (GEG). Penyebab utama yang dapat dikendalikan adalah kapasitas scrubber yang rendah, kandungan kelembapan gas yang tinggi, dan pemisahan gas-cairan yang buruk. Beberapa alternatif dibahas berdasarkan biaya dan manfaat operasional, dan opsi yang dipilih adalah scrubber bawah tanah. Dalam penelitian ini, sebuah kerangka kerja pengambilan keputusan terintegrasi diusulkan untuk meminimalkan LPO dan meningkatkan keandalan produksi pada lapangan migas yang sudah tua, dengan menggabungkan analisis akar penyebab, pengembangan alternatif yang berorientasi nilai, dan evaluasi multi-kriteria.