Bangunan beton bertulang existing yang dirancang menggunakan peraturan gempa
lama, seperti SNI 1726:2002, berpotensi memiliki kerentanan seismik yang tinggi
akibat perubahan filosofi desain menuju pendekatan uniform risk pada SNI
1726:2019 beserta pembaruan peta gempa nasional tahun 2024. Kerentanan
tersebut menjadi semakin kritis apabila bangunan mengalami alih fungsi menjadi
fasilitas dengan kategori risiko yang lebih tinggi, seperti rumah sakit, sehingga
memerlukan evaluasi dan retrofit seismik untuk memenuhi target kinerja
berdasarkan standar terkini. Pada bangunan dengan fungsi kritis seperti rumah
sakit, pengendalian percepatan lantai menjadi aspek yang tidak kalah penting
dibandingkan simpangan antarlantai, karena percepatan lantai yang berlebihan
dapat merusak elemen nonstruktural dan peralatan medis yang esensial bagi
keberlangsungan operasional pascagempa, sehingga parameter ini perlu turut
dipertimbangkan dalam evaluasi dan perancangan retrofit. Di antara berbagai
metode retrofit, Fluid Viscous Damper (FVD) merupakan salah satu sistem kontrol
pasif yang mampu meningkatkan disipasi energi tanpa menambah kekakuan
struktur secara signifikan. Namun demikian, penentuan lokasi, jumlah, dan
kapasitas FVD yang optimal umumnya memerlukan iterasi analisis nonlinier yang
cukup besar sehingga kurang efisien pada tahap perancangan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi tingkat kinerja struktur gedung
beton bertulang existing terhadap gempa BSE-1E (225 tahun), BSE-2E (975 tahun),
dan BSE-2N (2475 tahun) sebelum retrofit; (2) mengadaptasi metode simplified
performance-based design untuk optimasi perancangan FVD pada retrofit
ii
bangunan beton bertulang existing, serta membandingkan efektivitasnya terhadap
metode stiffness proportional damping distribution; (3) mengevaluasi perubahan
respons dinamis struktur setelah retrofit berdasarkan parameter simpangan
antarlantai, percepatan lantai, gaya geser lantai, disipasi energi, dan tingkat kinerja
elemen struktur; serta (4) mengevaluasi akurasi Fast Nonlinear Analysis (FNA)
terhadap Nonlinear Time History Analysis (NLTHA) – Direct Integration.
Penelitian dilakukan berdasarkan prosedur evaluasi dan rehabilitasi seismik pada
SNI 9273:2025 (adopsi ASCE/SEI 41-17) dan SNI 9274:2025 (adopsi ACI 369.1-
22). Struktur bangunan beton bertulang existing 12 lantai dievaluasi dengan
Nonlinear Time History Analysis (NLTHA) menggunakan Perform-3D. Apabila
target kinerja tidak terpenuhi, struktur diretrofit menggunakan FVD yang dirancang
melalui metode simplified performance-based design yang diadaptasi dari Ijmulwar
dan Patro (2024), dengan memanfaatkan Fast Nonlinear Analysis (FNA) pada
ETABS sebagai prosedur analisis dalam tahap optimasi desain FVD (konsep fully
stressed), yang mengintegrasikan kriteria simpangan antarlantai dan percepatan
lantai. Hasil metode simplified performance-based design tersebut dibandingkan
dengan metode stiffness proportional damping distribution, kemudian desain akhir
diverifikasi dengan NLTHA – Direct Integration menggunakan Perform-3D.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur existing tidak memenuhi acceptance
criteria SNI 9273:2025 dan SNI 9274:2025 pada tingkat gempa BSE-2E dan BSE-
2N, sehingga memerlukan retrofit seismik. Setelah dipasang FVD menggunakan
metode simplified performance-based design, target kinerja struktur berhasil
dicapai pada seluruh tingkat gempa yang dievaluasi. Rata-rata simpangan
antarlantai berkurang sebesar 40% untuk tingkat gempa BSE-1E, 36% untuk
tingkat gempa BSE-2E, dan 35% untuk tingkat gempa BSE-2N, sedangkan
percepatan lantai rata-rata berkurang sebesar 27% untuk tingkat gempa BSE-2E.
Pemasangan FVD berhasil mengurangi respons inelastik struktur, yang ditunjukkan
oleh respons struktur akibat gempa BSE-2N berupa penurunan energi histeretik
sekitar 57% dan penurunan story shear sekitar 10%, serta tetap terpenuhinya
kapasitas kolom existing dan kapasitas sambungan balok kolom existing (DCR<1).
Dibandingkan metode stiffness proportional damping distribution, metode
simplified performance-based design menghasilkan respons struktur yang relatif
serupa (selisih kurang lebih 6%), namun membutuhkan total koefisien redaman
sekitar 20% lebih kecil sehingga lebih efisien. FNA menghasilkan respons
simpangan antarlantai dan percepatan lantai yang cukup mendekati NLTHA pada
tingkat gempa BSE-1E, dengan selisih berturut-turut sekitar 8,5% dan 8,6%. Selisih
tersebut meningkat menjadi sekitar 11,7% (BSE-2E) dan 22,6% (BSE-2N) untuk
simpangan antarlantai, serta 10,2% (BSE-2E) dan 26,4% (BSE-2N) untuk
percepatan lantai, seiring struktur memasuki kondisi pascaleleh hingga tingkat
kinerja Life Safety.
Kebaruan penelitian ini terletak pada adaptasi dan validasi metode Simplified
Performance-Based Design untuk retrofit bangunan beton bertulang existing di
Indonesia, melalui pendekatan multikriteria yang mengintegrasikan simpangan
antarlantai dan percepatan lantai dalam optimasi FVD. Penelitian ini menunjukkan
bahwa metode tersebut mampu menghasilkan desain FVD yang memenuhi target
kinerja dengan kebutuhan redaman yang lebih efisien dibandingkan metode
distribusi berbasis kekakuan, serta menegaskan bahwa FNA dalam metode
Simplified Performance-Based Design layak digunakan sebagai alat desain awal
namun tetap memerlukan verifikasi NLTHA pada tahap akhir pada tingkat gempa
BSE-2E dan BSE-2N untuk menangkap perilaku pascaleleh struktur secara lebih
akurat.
Perpustakaan Digital ITB