Beroperasinya Dermaga Samudera beserta 4 unit QCC tambahan pada Juni 2026
menyebabkan perpindahan bottleneck Terminal Petikemas Semarang ke lapangan
penumpukan, sehingga kapasitas terminal 1.178.706 TEU per tahun sudah
terlampaui oleh permintaan 2027 sebesar 1.220.415 TEU. Penelitian ini
menganalisis kelayakan finansial ekspansi kapasitas melalui skenario do-nothing,
do-minimum berupa optimalisasi tinggi tumpukan dan sewa Reach Stacker, serta
do-something berupa peninggian dermaga, CY eks Curah Cair, CY Lamicitra Fase
1, dan eRTG. Arus kas inkremental 2027 sampai 2051 dinilai dengan Net Present
Value, Internal Rate of Return, Payback Period, dan Profitability Index pada
WACC 8,48%. Skenario do-minimum menghasilkan Net Present Value Rp283,83
miliar, tetapi kapasitasnya hanya mencukupi permintaan 2027. Skenario dosomething
menghasilkan Net Present Value Rp526,43 miliar terhadap do-nothing
dan Rp242,59 miliar terhadap do-minimum dengan Internal Rate of Return 9,47%,
dan CY Lamicitra Fase 1 menjadi penyumbang terbesar. Margin kelayakannya
relatif tipis, karena penurunan tarif 5,00% atau kenaikan belanja modal 7,88%
sudah membuat Net Present Value terhadap do-minimum bernilai nol. Skenario dosomething
direkomendasikan dengan syarat arus peti kemas tumbuh dengan laju
tetap di atas 6,99% per tahun, karena di bawah laju tersebut do-minimum lebih
menguntungkan.
Perpustakaan Digital ITB