digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Beroperasinya Dermaga Samudera beserta 4 unit QCC tambahan pada Juni 2026 menyebabkan perpindahan bottleneck Terminal Petikemas Semarang ke lapangan penumpukan, sehingga kapasitas terminal 1.178.706 TEU per tahun sudah terlampaui oleh permintaan 2027 sebesar 1.220.415 TEU. Penelitian ini menganalisis kelayakan finansial ekspansi kapasitas melalui skenario do-nothing, do-minimum berupa optimalisasi tinggi tumpukan dan sewa Reach Stacker, serta do-something berupa peninggian dermaga, CY eks Curah Cair, CY Lamicitra Fase 1, dan eRTG. Arus kas inkremental 2027 sampai 2051 dinilai dengan Net Present Value, Internal Rate of Return, Payback Period, dan Profitability Index pada WACC 8,48%. Skenario do-minimum menghasilkan Net Present Value Rp283,83 miliar, tetapi kapasitasnya hanya mencukupi permintaan 2027. Skenario dosomething menghasilkan Net Present Value Rp526,43 miliar terhadap do-nothing dan Rp242,59 miliar terhadap do-minimum dengan Internal Rate of Return 9,47%, dan CY Lamicitra Fase 1 menjadi penyumbang terbesar. Margin kelayakannya relatif tipis, karena penurunan tarif 5,00% atau kenaikan belanja modal 7,88% sudah membuat Net Present Value terhadap do-minimum bernilai nol. Skenario dosomething direkomendasikan dengan syarat arus peti kemas tumbuh dengan laju tetap di atas 6,99% per tahun, karena di bawah laju tersebut do-minimum lebih menguntungkan.