digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Claudia Patricia Lianata
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Kemacetan merupakan persoalan paralel yang muncul sebagai bagian dari dinamika globalisasi dan modernisasi, terutama di kota-kota besar. Perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain umumnya difasilitasi oleh transportasi umum atau pribadi. Kecenderungan masyarakat dalam menggunakan transportasi pribadi adalah efek samping industrialisasi dan modernisasi yang pada akhirnya memicu kepadatan lalu lintas. Intervensi arsitektur pada simpul transportasi untuk menumbuhkan minat masyarakat dalam penggunaan transportasi umum menjadi alternatif solusi untuk menekan tingginya penggunaan transportasi pribadi. Salah satu simpul transportasi krusial di Kota Bandung adalah Stasiun Kereta Api Bandung, yang memiliki peran vital dalam pergerakan penumpang skala regional. Namun, meskipun melayani pergerakan penumpang dalam skala besar, konektivitasnya dengan Terminal Stasiun Hall di sisi selatan sangat minim. Minimnya integrasi antar moda transportasi ini memaksa pengguna untuk bergantung pada transportasi pribadi, terlebih pada perjalanan first-mile atau last-mile, yang pada akhirnya berkontribusi pada kemacetan di area sekitarnya. Selain itu, kondisi terminal yang tidak didukung oleh fasilitas memadai serta visualnya yang kumuh menunjukkan degradasi fungsional dan visual. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana mengangkat kondisi tersebut tanpa mengabaikan nilai sosio-kultural yang sudah melekat, terutama dengan adanya aktivitas usaha mikro yang menjadi bagian signifikan dari identitas kawasan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembangan kawasan terminal untuk mengatasi degradasi fungsional dan visual dengan tetap merujuk pada lokalitas dan identitas kawasan. Terminal ini akan ditransformasikan menjadi interchange hub yang responsif dan terintegrasi sehingga dapat berperan sebagai penghubung antar moda transportasi. Konsep interchange hub tidak hanya berfokus pada perpindahan fisik antar moda transportasi, tetapi juga bertujuan untuk mengembalikan vitalitas kawasan. Dengan mengintegrasikan ritel dan ruang publik, kawasan ini akan menjadi pusat kegiatan yang dinamis, memberdayakan ekonomi lokal, dan berkontribusi pada kehidupan sosio-kultural kota secara keseluruhan. Penjawaban isu-isu tersebut dilakukan melalui pendekatan holistik yang mencakup studi teoritis, observasi lapangan, analisis komparatif, dan metode partisipatif untuk memahami konteks, tapak, serta masyarakat sebagai pengguna. Tujuan perancangan ini adalah mentransformasi Terminal Stasiun Hall Bandung menjadi sebuah interchange hub yang responsif dan terintegrasi, yang tidak hanya menghubungkan dua moda transportasi, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator bagi pertumbuhan ekonomi, sosial, dan budaya kawasan.