digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Tb Gaia Cassia Montana
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Kawasan wisata Kebun Raya Cibodas yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan bagian dari Cagar Biosfer Cibodas dan Environmentally Sensitive Areas (ESA) yang memiliki fungsi penting dalam konservasi keanekaragaman hayati sekaligus pengembangan wisata berbasis alam. Namun demikian, timbul kontradiksi dalam kebutuhan pengembangan fasilitas konservasi dan wisata guna mendukung konservasi spesies burung kicau endemik serta peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat yang berpotensi memberikan tekanan ekologis baru terhadap kawasan itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan perancangan yang mampu memediasi hubungan antara kepentingan konservasi serta pengembangan wisata terhadap kelestarian ekologi kawasan tapak. Perancangan ini bertujuan merumuskan peran arsitektur sebagai media mediasi berbasis sensitivitas ekologis dalam mengembangkan kawasan konservasi spesies burung kicau endemik dan kawasan wisata Kebun Raya Cibodas yang mampu mengintegrasikan fungsi konservasi, edukasi, wisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui intervensi arsitektur yang adaptif, non-invasif, dan berkelanjutan. Perancangan dilakukan melalui kajian pustaka mengenai Cagar Biosfer, Environmentally Sensitive Areas (ESA), konservasi satwa endemik, wisata berbasis konservasi, dan Soft Architecture, yang dipadukan dengan studi preseden, analisis spesies, analisis tapak, serta analisis kebutuhan pengguna. Hasil analisis kemudian disintesiskan menjadi kriteria perancangan yang diterjemahkan ke dalam konsep kawasan dan implementasi desain. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan berbasis sensitivitas ekologis mampu menghasilkan kriteria perancangan yang mengintegrasikan fungsi konservasi spesies burung kicau endemik, wisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengaturan zonasi, pengendalian aktivitas manusia, serta penerapan intervensi lingkungan binaan yang adaptif dan non-invasif. Perancangan kawasan mengarahkan hubungan antara aktivitas manusia dan kebutuhan ekologis satwa sehingga fungsi konservasi dan wisata dapat berjalan secara berdampingan tanpa meningkatkan tekanan terhadap kawasan dengan sensitivitas ekologis tinggi.