digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menghadapi tekanan profitabilitas yang semakin berat sepanjang periode 2021 hingga 2025. Kenaikan BI Rate secara kumulatif sebesar 275 basis poin sejak Juli 2022 mendorong biaya dana naik dari 1,6% pada tahun 2021 menjadi 2,7% pada tahun 2025, sementara kewajiban menyalurkan kredit program berbunga rendah—termasuk Kredit Usaha Rakyat senilai Rp33,2 triliun dengan imbal hasil sekitar 6%—sebagai anggota Himpunan Bank Milik Negara semakin mempersempit ruang gerak penetapan harga kredit. Kondisi ini menyebabkan Net Interest Margin menyusut dari 4,8% pada tahun 2022 menjadi 4,0% pada tahun 2025. Laba bersih yang sempat tumbuh 232,2% pada tahun 2021 berbalik turun 7,2% pada tahun 2025 menjadi Rp20,1 triliun, kendati volume kredit pada periode yang sama tumbuh 15,9%. Fenomena ini mencerminkan dilema struktural bank BUMN: tekanan biaya dana dan mandat pembangunan membebani profitabilitas melebihi kapasitas kompensasi yang dapat diberikan oleh pertumbuhan kredit semata. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi peningkatan profitabilitas BNI untuk periode 2026–2029 yang sekaligus mempertahankan fungsi pembangunan nasional. Desain penelitian menggunakan pendekatan applied development research dengan metode campuran (mixed methods), menggabungkan analisis dokumen keuangan historis periode 2020–2025 dan wawancara mendalam dengan enam divisi strategis BNI. Identifikasi faktor internal dan eksternal dilakukan melalui matriks IFE dan EFE, dengan pembobotan menggunakan Analytical Hierarchy Process yang melibatkan empat responden dari jajaran manajemen. Formulasi strategi dilakukan melalui matriks IE dan SWOT, dilanjutkan penetapan prioritas berdasarkan expert judgment lintas divisi. Proyeksi dampak dievaluasi melalui tiga pendekatan: pemodelan keuangan berbasis skenario, analisis pengganda kredit untuk dampak ekonomi, dan kerangka Public Value Moore (1995) untuk menilai keselarasan dengan mandat pembangunan. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa tekanan profitabilitas BNI lebih dominan bersumber dari kenaikan biaya dana dan kekakuan margin kredit program, bukan dari inefisiensi operasional, yang justru telah membaik, tercermin dari penurunan BOPO dari 93,3% pada tahun 2020 menjadi 72,9% pada tahun 2025. Dari delapan alternatif strategi yang dirumuskan, dua strategi terpilih sebagai prioritas. Pertama, Percepatan Wholesale Value Chain Berbasis Anchor Corporate, yang menempatkan BNI sebagai pengorkestrasi ekosistem pembiayaan dengan mengintegrasikan kredit korporasi dan pembiayaan UMKM dalam rantai pasok melalui segmentasi tiga lapis: UMKM Premium, Growing, dan Subsidi. Kedua, Transformasi CASA Digital, yang menargetkan akuisisi dana murah melalui kanal digital guna meningkatkan rasio Current Account and Savings Account dari 69,9% menjadi 72,3% pada tahun 2029 dan menekan biaya dana dari 1,85% menjadi 1,75%. Implementasi kombinasi kedua strategi diproyeksikan meningkatkan laba bersih dari Rp20,1 triliun pada tahun 2025 menjadi Rp28,8 triliun pada tahun 2029 dengan Compound Annual Growth Rate 9,37%—jauh melampaui pertumbuhan skenario baseline sebesar 5,0% per tahun, serta membalikkan tren penurunan Return on Equity menuju 12,98% pada tahun 2029. Dari sisi dampak pembangunan, implementasi strategi diproyeksikan mendorong ekspansi kredit tambahan sebesar Rp112,15 triliun, berkontribusi terhadap PDB sebesar Rp13,46 triliun, dan menjangkau hampir 378 ribu UMKM dalam ekosistem value chain. Temuan penelitian menegaskan bahwa peningkatan profitabilitas dan pemenuhan mandat pembangunan bukan merupakan tujuan yang saling bertentangan, melainkan dapat dicapai secara bersamaan melalui strategi yang tepat. Secara akademik, temuan ini berkontribusi pada pengembangan literatur bank pembangunan dengan membuktikan bahwa model value chain financing mampu mengatasi trade-off antara profitabilitas komersial dan mandat publik pada bank BUMN di negara berkembang, sekaligus mengkonfirmasi dan memperluas kerangka Public Value Moore dalam konteks perbankan yang menghadapi volatilitas suku bunga tinggi.