Penelitian ini mengkaji kinerja Service Level Agreement (SLA) dalam proses
pengadaan dan kontrak pada entitas Subholding hulu minyak dan gas bumi di
Indonesia. Sejak dilakukannya restrukturisasi, fungsi pengadaan dan kontrak
memiliki peran yang terpisah, yang memicu perbedaan dalam alokasi staf, metode
kerja, hingga proses operasional. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana
perbedaan metode kerja berkaitan dengan pencapaian SLA di berbagai entitas.
Lebih lanjut, studi ini meneliti faktor-faktor terkait proses yang berkontribusi
terhadap SLA, dan mengusulkan strategi perbaikan untuk mendukung peningkatan
kinerja SLA yang berkelanjutan.
Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah mixed method, yang
menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data operasional dari enam
entitas Subholding untuk aktivitas pengadaan dan kontrak sepanjang tahun 2024
digunakan sebagai basis analisis kuantitatif. Data tersebut mencakup total kontrak,
alokasi personel, metode kerja, serta angka kepatuhan SLA. Kinerja SLA dari setiap
entitas dievaluasi menggunakan analisis deskriptif di mana metode kerja split
(terpisah) dan end-to-end (menyeluruh) dibandingkan. Selain itu, Statistical
Process Control (SPC) diterapkan untuk mengidentifikasi variabilitas proses.
Analisis kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan Manajemen serta Focus
Group Discussion (FGD) bersama para karyawan dari berbagai departemen, yaitu
Procurement, Contract Management, Methods, Performance, hingga System, untuk
mengetahui faktor terkait proses yang memengaruhi kinerja SLA.
Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi performa SLA yang signifikan di
antara entitas Subholding. Metode kerja split antara fungsi Procurement dan
Contract Management terbukti menghasilkan waktu penyelesaian SLA 45% lebih
cepat dibandingkan metode end-to-end. Hal ini menunjukkan bahwa spesialisasi
peran, distribusi pekerjaan yang lebih baik, serta kontrol proses melalui pemisahan
peran memiliki dampak pada eksekusi operasional yang lebih cepat. Selain itu,
penelitian ini mengidentifikasi empat faktor terkait proses yang berkontribusi pada
kinerja SLA, yaitu Work Method Implementation, Procurement – CM Handover,
System Role Segregation, dan Capability Development.
Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan strategi perbaikan
operasional, yaitu memperkuat penyelarasan implementasi metode kerja split di
seluruh entitas Subholding dan keterlibatan awal Contract Management pada tahap
hasil pelaksanaan tender. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur
manajemen operasi dengan menyajikan bukti empiris mengenai dampak metode
kerja split dan end-to-end terhadap kinerja SLA pengadaan dan kontrak. Selain itu,
penelitian ini memberikan wawasan manajerial praktis untuk meningkatkan
performa operasional dalam proses pengadaan dan kontrak, sekaligus
menyelaraskan tata kelola demi mencapai target SLA yang berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB