digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini mengkaji kinerja Service Level Agreement (SLA) dalam proses pengadaan dan kontrak pada entitas Subholding hulu minyak dan gas bumi di Indonesia. Sejak dilakukannya restrukturisasi, fungsi pengadaan dan kontrak memiliki peran yang terpisah, yang memicu perbedaan dalam alokasi staf, metode kerja, hingga proses operasional. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perbedaan metode kerja berkaitan dengan pencapaian SLA di berbagai entitas. Lebih lanjut, studi ini meneliti faktor-faktor terkait proses yang berkontribusi terhadap SLA, dan mengusulkan strategi perbaikan untuk mendukung peningkatan kinerja SLA yang berkelanjutan. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah mixed method, yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data operasional dari enam entitas Subholding untuk aktivitas pengadaan dan kontrak sepanjang tahun 2024 digunakan sebagai basis analisis kuantitatif. Data tersebut mencakup total kontrak, alokasi personel, metode kerja, serta angka kepatuhan SLA. Kinerja SLA dari setiap entitas dievaluasi menggunakan analisis deskriptif di mana metode kerja split (terpisah) dan end-to-end (menyeluruh) dibandingkan. Selain itu, Statistical Process Control (SPC) diterapkan untuk mengidentifikasi variabilitas proses. Analisis kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan Manajemen serta Focus Group Discussion (FGD) bersama para karyawan dari berbagai departemen, yaitu Procurement, Contract Management, Methods, Performance, hingga System, untuk mengetahui faktor terkait proses yang memengaruhi kinerja SLA. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi performa SLA yang signifikan di antara entitas Subholding. Metode kerja split antara fungsi Procurement dan Contract Management terbukti menghasilkan waktu penyelesaian SLA 45% lebih cepat dibandingkan metode end-to-end. Hal ini menunjukkan bahwa spesialisasi peran, distribusi pekerjaan yang lebih baik, serta kontrol proses melalui pemisahan peran memiliki dampak pada eksekusi operasional yang lebih cepat. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi empat faktor terkait proses yang berkontribusi pada kinerja SLA, yaitu Work Method Implementation, Procurement – CM Handover, System Role Segregation, dan Capability Development. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan strategi perbaikan operasional, yaitu memperkuat penyelarasan implementasi metode kerja split di seluruh entitas Subholding dan keterlibatan awal Contract Management pada tahap hasil pelaksanaan tender. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur manajemen operasi dengan menyajikan bukti empiris mengenai dampak metode kerja split dan end-to-end terhadap kinerja SLA pengadaan dan kontrak. Selain itu, penelitian ini memberikan wawasan manajerial praktis untuk meningkatkan performa operasional dalam proses pengadaan dan kontrak, sekaligus menyelaraskan tata kelola demi mencapai target SLA yang berkelanjutan.