digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PLN UID Jawa Timur menghadapi tantangan strategis pada portofolio pelanggan industrinya. Dari 2022 hingga 2025, jumlah pelanggan industri meningkat sebesar 90,2%, sementara rata-rata konsumsi listrik per pelanggan secara agregat menurun sebesar 42,9%. Karena angka tersebut merupakan gabungan segmen LV, MV, dan HV, perbedaan tren ini digunakan dalam penelitian sebagai business warning signal pada tingkat portofolio dan bukan sebagai bukti langsung bahwa mekanisme partial defection terjadi dengan intensitas yang sama pada seluruh segmen tegangan. Analisis kuantitatif karena itu difokuskan pada pelanggan industri MV dan HV, yang secara bersama-sama menyumbang sekitar 85% penjualan listrik industri dan dikelola melalui pendekatan relationship management Priority Account Executive (PAE). Pertumbuhan pesat rooftop solar PV industri dan wawancara awal dengan sepuluh pelanggan MV/HV menunjukkan bahwa risiko partial defection relevan bagi strategic accounts tersebut: pelanggan dapat tetap terhubung dengan PLN sekaligus memenuhi sebagian kebutuhan energinya melalui self-generation. Penelitian ini menggunakan Commitment-Trust Theory (Morgan & Hunt, 1994) melalui focused Key Mediating Variable (KMV) model yang terdiri atas delapan konstruk: Relationship Termination Costs, Relationship Benefits, Shared Values, Communication, Trust, Relationship Commitment, Propensity to Leave, dan Cooperation. Propensity to Leave dikontekstualisasikan sebagai intensi partial defection, bukan perpindahan pemasok secara penuh. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif-eksplanatoris dan cross-sectional terhadap 300 responden MV/HV yang terdiri atas 276 responden MV dan 24 responden HV, dengan stratified sampling design yang secara sengaja memastikan keterwakilan analitis segmen HV yang berukuran lebih kecil. Pengujian empiris dilakukan menggunakan PLS-SEM dengan bootstrapping 5.000 subsample dan Importance Performance Map Analysis (IPMA). Formulasi strategi selanjutnya menggabungkan analisis internal dan eksternal, B2B Elements of Value framework, adapted BCG customer portfolio analysis menggunakan data penjualan listrik per sektor 2024–2025, reference-based financial scenario analysis, serta sintesis SWOT/TOWS. Seluruh sembilan hipotesis didukung. Communication merupakan driver terkuat Trust (? = 0,460), sedangkan Relationship Commitment memberikan pengaruh negatif terkuat terhadap Propensity to Leave (? = -0,577) dan pengaruh positif terkuat terhadap Cooperation (? = 0,631). IPMA mengidentifikasi Shared Values dan Relationship Termination Costs sebagai prioritas utama perbaikan. Adapted BCG analysis menunjukkan bahwa perlakuan strategis perlu dibedakan antar sektor industri; kelompok Stars dan Cash Cows secara bersama-sama mencakup 85,49% dari portofolio penjualan operasional 2025 yang terklasifikasi berdasarkan sektor. Financial scenario analysis memperkirakan gross grid revenue exposure secara konservatif sekitar Rp0,837 triliun, Rp1,673 triliun, dan Rp2,510 triliun pada skenario ilustratif pengurangan pembelian listrik MV/HV masing-masing sebesar 5%, 10%, dan 15%. Karena margin spesifik proyek Beyond-kWh tidak tersedia secara publik, penelitian ini tidak menyimpulkan adanya kompensasi finansial secara penuh; Beyond-kWh diposisikan sebagai mekanisme partial value recovery untuk mempertahankan sebagian pengeluaran energi pelanggan di dalam ekosistem PLN Group. Strategi akhir terdiri atas empat Strategic Thrusts yang saling memperkuat: Renewable Energy Partner Repositioning; PLN Group Entry to Beyond-kWh Rooftop PV Turnkey Business; PLN for Business B2B Digital Portal and Analytics; serta PAE Capability Upskilling and Dedicated Engagement. Keempat thrusts tersebut dioperasionalisasikan melalui empat belas inisiatif dalam roadmap 18 bulan, termasuk B2B Energy Transition Campaign tiga tahap yang bergerak dari Awareness and Positioning menuju Engagement and Conversion dan selanjutnya Advocacy and Relationship Reinforcement.