digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER SIDIK PERMANA
EMBARGO  2029-07-16 

Indonesia memiliki cadangan uranium sebesar sekitar 81.090 ton U?O? dan thorium sekitar 142.000 ton ThO?, serta potensi logam tanah jarang (LTJ) yang besar sebagai produk sampingan pengolahan mineral. Meskipun demikian, hingga saat ini Indonesia belum mampu memanfaatkan sumber daya ini secara strategis untuk mendukung program pengembangan energi nuklir nasional. Tesis ini mengkaji strategi teknis, ekonomis, dan kebijakan untuk mewujudkan kemandirian bahan bakar reaktor nuklir berbasis material domestik Indonesia, dengan fokus pada periode 2026–2045. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan analisis tekno-ekonomi kuantitatif dan analisis kebijakan kualitatif. Analisis tekno-ekonomi mencakup perhitungan Levelized Cost of Electricity (LCOE), Internal Rate of Return (IRR), dan Net Present Value (NPV) untuk tiga jenis reaktor utama: APR-1400 (Korea), VVER-1200 (Rusia), dan ACP- 1000 (Cina). Analisis kebijakan menggunakan kerangka Actor-Network Theory (ANT) dengan Lima Loop Latour untuk memetakan jaringan aktor, artefak, dan institusi yang terlibat dalam pengembangan bahan bakar nuklir domestik. Enam skenario kemandirian bahan bakar dibangun berdasarkan tingkat partisipasi domestik dan konfigurasi rantai pasok. Hasil analisis menunjukkan bahwa ACP-1000 memiliki LCOE terendah sebesar dengan nilai IRR dan NPV tertinggi, diikuti APR-1400 dan VVER-1200 sebagai analisa komparasi berbasis pada PLTN berdaya besar. Namun demikian, pertimbangan geopolitik, rekam jejak transfer teknologi, dan keselarasan dengan ekosistem global menempatkan APR-1400 sebagai pilihan optimal untuk PLTN pertama Indonesia, mengikuti model Barakah UEA. Untuk skenario kemandirian bahan bakar, Skenario B/C (partisipasi domestik front-end/Plus fabrikasi fuel iv (C/menengah)) adalah target kemandirian bahan bakar yang optimal untuk jangka menengah. Skenario B/C (tambang + konversi UF6 domestik; pengayaan dan fabrikasi elemen masih impor (B/Front-end) atau fabrikasi fuel element domestic (C/menengah) memberikan penghematan 30–55% biaya bahan bakar dibanding impor penuh, dengan investasi yang jauh lebih terjangkau dibanding Skenario D-E. Target pencapaian Skenario B/C adalah 2035–2040, dengan first core loading dari uranium domestik diproyeksikan pada 2041–2045. Kemandirian bahan bakar nuklir membutuhkan penutupan lima gap strategis pada 2029–2032. Analisis ANT dengan Lima Loop Latour mengidentifikasi: (L1) gap agenda terkait kemandirian bahan bakar belum eksplisit dalam RUKN; (L2) gap eksperimen berhubungan dengan tidak ada pilot plant konversi UF6 domestik; (L3) gap objektifikasi berkaitan dengan standar nasional fabrikasi bahan bakar belum ada; (L4) gap publikasi berkorelasi dengan komunikasi kebijakan terbatas; dan (L5) gap institusionalisasi mengacu pada tidak ada koordinator tunggal rantai pasok bahan bakar. Penutupan kelima gap ini pada periode 2026–2032 adalah prasyarat untuk kemandirian bahan bakar pada 2040–2045. Penelitian ini merekomendasikan agar Pemerintah Indonesia menetapkan APR-1400 sebagai reaktor prioritas dengan target first core loading pada 2041– 2045, disertai penetapan peta jalan fabrikasi bahan bakar domestik bertahap. BRIN dan Universitas perlu memperkuat kapasitas riset dan sumber daya manusia dalam siklus bahan bakar nuklir, sementara industri perlu membangun konsorsium joint venture fabrikasi bahan bakar domestik yang mencakup PT Perminas, PT INUKI, PT Timah, MIND.ID dan mitra strategis internasional. Terbentuknya Nuclear Fuel Readiness Task Force (NFRTF) yang bertanggung jawab atas peta jalan kemandirian bahan bakar melalui Keputusan Presiden dengan mandat mengkoordinasikan: Kementerian ESDM, BRIN, BAPETEN, PT INUKI, PT Timah, MIND ID, PT Perminas dan Kementerian Keuangan