Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur merupakan kawasan konservasi perairan
terluas di Indonesia dengan kondisi terumbu karang yang sebagian mengalami
degradasi, sehingga proses pemulihannya sangat bergantung pada konektivitas
larva antar terumbu. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola penyebaran planula
karang, pengaruh arus laut terhadap lintasan dispersal, serta konektivitas sumber
dan penerima larva melalui simulasi numerik forward tracking. Simulasi dilakukan
menggunakan OceanParcels dengan data arus laut tiga dimensi HYCOM
GLBy0.08 (GOFS 3.1) tahun 2021 sebagai data pembangkit utama model pada
delapan skenario fase bulan gelap dan purnama pada Maret, April, Oktober, dan
November. Partikel dimodelkan dengan migrasi vertikal ontogenetik, mortalitas
bertahap, dan Pelagic Larval Duration (PLD) selama 21 hari. Validasi model
menunjukkan bahwa komponen arus nonpasut mendominasi 85,8% varians arus
dengan bias relatif kecil terhadap data observasi. Jarak dispersal rata-rata berkisar
19,2-62,9 km, dengan jangkauan terluas pada Maret bulan gelap dan retensi
tertinggi pada November bulan purnama yang berkaitan dengan sirkulasi eddy.
Sebanyak 69% partikel berhasil melakukan settlement, dengan Pulau Rote (41,0
48,4%), Pulau Timor (25,8-32,5%), dan Pulau Sumba (11,5-14,9%) sebagai
wilayah penerima utama. Analisis konektivitas mengindikasikan tingkat self
recruitment yang tinggi (77-99%) pada sebagian besar pulau, sedangkan Pulau
Dana dan Pulau Raijua berperan sebagai penghubung konektivitas regional. Secara
keseluruhan, retensi larva lebih dominan terjadi di dalam cekungan Laut Sawu
sehingga berpotensi mendukung pengelolaan kawasan konservasi berbasis
konektivitas larva.
Perpustakaan Digital ITB