digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Valent Syifa Pramudhita
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur merupakan kawasan konservasi perairan terluas di Indonesia dengan kondisi terumbu karang yang sebagian mengalami degradasi, sehingga proses pemulihannya sangat bergantung pada konektivitas larva antar terumbu. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola penyebaran planula karang, pengaruh arus laut terhadap lintasan dispersal, serta konektivitas sumber dan penerima larva melalui simulasi numerik forward tracking. Simulasi dilakukan menggunakan OceanParcels dengan data arus laut tiga dimensi HYCOM GLBy0.08 (GOFS 3.1) tahun 2021 sebagai data pembangkit utama model pada delapan skenario fase bulan gelap dan purnama pada Maret, April, Oktober, dan November. Partikel dimodelkan dengan migrasi vertikal ontogenetik, mortalitas bertahap, dan Pelagic Larval Duration (PLD) selama 21 hari. Validasi model menunjukkan bahwa komponen arus nonpasut mendominasi 85,8% varians arus dengan bias relatif kecil terhadap data observasi. Jarak dispersal rata-rata berkisar 19,2-62,9 km, dengan jangkauan terluas pada Maret bulan gelap dan retensi tertinggi pada November bulan purnama yang berkaitan dengan sirkulasi eddy. Sebanyak 69% partikel berhasil melakukan settlement, dengan Pulau Rote (41,0 48,4%), Pulau Timor (25,8-32,5%), dan Pulau Sumba (11,5-14,9%) sebagai wilayah penerima utama. Analisis konektivitas mengindikasikan tingkat self recruitment yang tinggi (77-99%) pada sebagian besar pulau, sedangkan Pulau Dana dan Pulau Raijua berperan sebagai penghubung konektivitas regional. Secara keseluruhan, retensi larva lebih dominan terjadi di dalam cekungan Laut Sawu sehingga berpotensi mendukung pengelolaan kawasan konservasi berbasis konektivitas larva.