digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Lapangan Panas Bumi Lumut Balai yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy memiliki kapasitas terpasang 2 × 55 MW. Salah satu strategi pengembangan lapangan adalah melakukan konversi sumur injeksi menjadi sumur produksi untuk mendukung keberlanjutan produksi. Penelitian ini menggunakan Sumur LMB-A2 sebagai studi kasus, yaitu sumur yang telah beroperasi sebagai reinjeksi selama sekitar empat tahun sebelum mengalami heating-up selama 99 hari setelah injeksi dihentikan. Pemodelan numerik near-wellbore dilakukan menggunakan TOUGH2/AUTOUGH2 untuk mensimulasikan proses pemulihan termal pada kondisi transien, kemudian dikalibrasi melalui history matching menggunakan inverse modelling iTOUGH2, serta dilanjutkan dengan simulasi lubang sumur kondisi steady-state menggunakan SwelFlo untuk mengevaluasi performa produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model mampu mereproduksi proses heating-up dengan baik, ditunjukkan oleh kesesuaian temperatur hasil simulasi dan observasi pada kedua feedzone (-232 dan -499 mdpl) dengan selisih kurang dari 1°C. Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa permeabilitas horizontal merupakan parameter utama yang mengontrol laju thermal recovery, dengan perubahan temperatur akhir sebesar 2–5 °C pada variasi permeabilitas yang diuji. Simulasi juga menunjukkan bahwa cold plume akibat reinjeksi terkonfinasi hingga sekitar 25 m dari sumbu sumur, sedangkan tekanan residual positif sebesar 0,5–4 bar mengindikasikan dukungan terhadap natural discharge pasca-konversi. Simulasi wellhead output curve menghasilkan laju alir 30–194 kg/s pada WHP 5,3– 17 bara dengan entalpi relatif konstan 1.010–1.025 kJ/kg. Kurva simulasi berimpit dengan data flow performance test pada laju alir sekitar 127 kg/s dan WHP 13,2 bara, sedangkan deviasi entalpi hanya 3–6%. Metodologi ini dapat digunakan sebagai evaluasi awal kandidat konversi sumur reinjeksi menjadi sumur produksi pada lapangan panas bumi.