Lapangan Panas Bumi Lumut Balai yang dikelola PT Pertamina Geothermal
Energy memiliki kapasitas terpasang 2 × 55 MW. Salah satu strategi pengembangan
lapangan adalah melakukan konversi sumur injeksi menjadi sumur produksi untuk
mendukung keberlanjutan produksi. Penelitian ini menggunakan Sumur LMB-A2
sebagai studi kasus, yaitu sumur yang telah beroperasi sebagai reinjeksi selama
sekitar empat tahun sebelum mengalami heating-up selama 99 hari setelah injeksi
dihentikan. Pemodelan numerik near-wellbore dilakukan menggunakan
TOUGH2/AUTOUGH2 untuk mensimulasikan proses pemulihan termal pada
kondisi transien, kemudian dikalibrasi melalui history matching menggunakan
inverse modelling iTOUGH2, serta dilanjutkan dengan simulasi lubang sumur
kondisi steady-state menggunakan SwelFlo untuk mengevaluasi performa
produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model mampu mereproduksi proses
heating-up dengan baik, ditunjukkan oleh kesesuaian temperatur hasil simulasi dan
observasi pada kedua feedzone (-232 dan -499 mdpl) dengan selisih kurang dari
1°C. Analisis sensitivitas mengonfirmasi bahwa permeabilitas horizontal
merupakan parameter utama yang mengontrol laju thermal recovery, dengan
perubahan temperatur akhir sebesar 2–5 °C pada variasi permeabilitas yang diuji.
Simulasi juga menunjukkan bahwa cold plume akibat reinjeksi terkonfinasi hingga
sekitar 25 m dari sumbu sumur, sedangkan tekanan residual positif sebesar 0,5–4
bar mengindikasikan dukungan terhadap natural discharge pasca-konversi.
Simulasi wellhead output curve menghasilkan laju alir 30–194 kg/s pada WHP 5,3–
17 bara dengan entalpi relatif konstan 1.010–1.025 kJ/kg. Kurva simulasi berimpit
dengan data flow performance test pada laju alir sekitar 127 kg/s dan WHP 13,2
bara, sedangkan deviasi entalpi hanya 3–6%. Metodologi ini dapat digunakan
sebagai evaluasi awal kandidat konversi sumur reinjeksi menjadi sumur produksi
pada lapangan panas bumi.
Perpustakaan Digital ITB