2026 TS PP Luthfia Hana Sabrina 29024012-Full Text
EMBARGO  2029-08-16 
EMBARGO  2029-08-16 
Teledentistry berpotensi meningkatkan akses, kesinambungan, dan efisiensi
pelayanan kedokteran gigi. Namun, adopsinya masih belum merata karena pasien
memiliki kebutuhan layanan, persyaratan kepercayaan, preferensi digital, dan
kesiapan menggunakan layanan jarak jauh yang berbeda. Penelitian terdahulu
umumnya menganalisis penerimaan teknologi pada tingkat populasi secara
agregat sehingga masih memberikan panduan yang terbatas untuk
mengidentifikasi segmen pasien yang dapat ditindaklanjuti dan menerjemahkannya
menjadi strategi pemasaran media sosial yang berbeda. Penelitian ini bertujuan
mengeksplorasi kebutuhan pasien terhadap teledentistry, mengidentifikasi segmen
pasien berbasis kebutuhan, mendeskripsikan kesiapan penerimaan teknologi
menggunakan konstruk terpilih dari Unified Theory of Acceptance and Use of
Technology 2 (UTAUT2), serta merumuskan usulan strategi pemasaran media
sosial yang spesifik bagi setiap segmen dalam konteks rumah sakit gigi dan mulut
pendidikan. Penelitian ini mengasumsikan bahwa kebutuhan pasien dapat
membedakan calon pengguna secara bermakna dan bahwa UTAUT2 dapat
memperkaya interpretasi segmen setelah pembentukan cluster. Penelitian ini tidak
menguji hipotesis kausal.
Penelitian menggunakan desain metode campuran eksploratori sekuensial. Tahap
kualitatif pendahuluan melibatkan wawancara semi-terstruktur dengan dua pasien
dan empat informan dokter gigi. Data dianalisis secara tematik menggunakan
NVivo melalui pengodean deduktif dan induktif. Tahap ini menghasilkan 859
referensi berkode dalam 16 parent nodes dan lima tema terintegrasi yang menjadi
dasar pengembangan lima konstruk kebutuhan pasien: Kebutuhan Aksesibilitas
dan Kenyamanan, Kebutuhan Layanan dan Klinis, Kebutuhan Fitur Digital dan
Kemudahan Penggunaan, Kebutuhan Kepercayaan dan Keamanan, serta
Kebutuhan Emosional dan Pengalaman. Tahap kuantitatif menggunakan survei
potong lintang terhadap 98 pasien Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas
Padjadjaran yang memenuhi kriteria. Lima skor kebutuhan pasien yang telah
distandardisasi digunakan sebagai variabel numerik utama dalam clustering K-
Prototypes, didukung oleh pengalaman penggunaan teledentistry sebelumnya,
saluran komunikasi yang disukai, dan jenis layanan kedokteran gigi yang
dibutuhkan sebagai variabel kategorikal. Solusi dua hingga enam cluster dievaluasi berdasarkan biaya clustering, skor silhouette data campuran, stabilitas
Adjusted Rand Index, ukuran cluster, dan interpretabilitas praktis. Konstruk
UTAUT2 dan Behavioral Intention tidak digunakan dalam pembentukan cluster,
tetapi hanya untuk pemrofilan deskriptif setelah segmentasi.
Hasil kualitatif menunjukkan bahwa pasien memiliki kesadaran formal yang
terbatas meskipun komunikasi kedokteran gigi secara daring telah berlangsung
secara informal; memandang teledentistry sebagai panduan awal dan bukan
pengganti perawatan klinis; membutuhkan penyedia layanan terverifikasi,
komunikasi profesional, dan jaminan perlindungan data; memilih akses digital
yang sederhana dan familier; serta menilai layanan berdasarkan kenyamanan,
keterjangkauan, dan kejelasan hasil konsultasi. Seluruh konstruk kuantitatif
menunjukkan konsistensi internal yang dapat diterima, dengan Cronbach’s alpha
antara 0,806 dan 0,913. Kebutuhan Kepercayaan dan Keamanan memiliki rata-
rata tertinggi, diikuti oleh Kebutuhan Emosional dan Pengalaman. Solusi dua
cluster dipilih karena menghasilkan skor silhouette tertinggi sebesar 0,674,
stabilitas pengulangan sempurna dengan rata-rata Adjusted Rand Index sebesar
1,000, ukuran cluster yang memadai, dan interpretasi praktis yang jelas. Cluster 1
terdiri atas 29 responden dan diberi label Pasien Berkebutuhan Moderat dengan
Kesiapan Berhati-hati. Segmen ini memiliki kebutuhan moderat hingga tinggi,
pengalaman teledentistry yang lebih terbatas, serta skor UTAUT2 dan Behavioral
Intention yang relatif moderat. Cluster 2 terdiri atas 69 responden dan diberi label
Pasien Berkebutuhan Tinggi dengan Kesiapan Kuat. Segmen ini memiliki
kebutuhan yang konsisten tinggi dan kesiapan penerimaan teknologi yang lebih
kuat. Perbedaan kedua segmen lebih banyak ditentukan oleh intensitas kebutuhan,
pengalaman sebelumnya, persepsi nilai, dan kesiapan perilaku dibandingkan
karakteristik demografis. WhatsApp merupakan saluran komunikasi yang paling
disukai pada kedua segmen.
Hasil integrasi menunjukkan bahwa teledentistry perlu diposisikan sebagai
perluasan layanan kedokteran gigi konvensional yang tepercaya dan nyaman.
Komunikasi bagi Pasien Berkebutuhan Moderat dengan Kesiapan Berhati-hati
perlu menekankan edukasi, pengurangan ketidakpastian, verifikasi penyedia
layanan, privasi, transparansi biaya, batasan layanan, dan percobaan awal
berisiko rendah. Komunikasi bagi Pasien Berkebutuhan Tinggi dengan Kesiapan
Kuat perlu menekankan kemudahan akses, layanan preventif, tindak lanjut,
pengingat, kesinambungan layanan, dan integrasi pelayanan daring–luring.
Penelitian ini berkontribusi pada ilmu manajemen dengan menggabungkan
eksplorasi kualitatif, segmentasi data campuran berbasis kebutuhan, dan
pemrofilan pascasegmentasi berbasis UTAUT2 tanpa menggunakan UTAUT2
sebagai model kausal atau variabel pembentuk cluster. Strategi yang diusulkan
merupakan rekomendasi berbasis bukti karena penelitian dilakukan pada satu
institusi dan tidak melibatkan wawancara pascasegmentasi atau validasi
manajerial.
Keywords: teledentistry, segmentasi pasien, kebutuhan pasien, K-Prototypes,
UTAUT2, pemasaran media sosial.
Perpustakaan Digital ITB