Industri kartu kredit di Indonesia mengalami transformasi signifikan akibat
pesatnya adopsi alternatif pembayaran digital seperti e-wallet, skema Buy-Now-
Pay-Later (BNPL), dan transaksi berbasis QRIS. Studi ini bertujuan untuk
menganalisis faktor pendorong utama, ketidakpastian kritis, serta skenario masa
depan yang akan membentuk perkembangan industri ini. Dengan melakukan
penelitian kualitatif melalui wawancara dengan pemangku kepentingan serta
menerapkan metodologi perencanaan skenario, penelitian ini mengidentifikasi
enam faktor pendorong utama: politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan,
dan hukum. Penelitian ini menemukan dua ketidakpastian utama: tingkat inovasi
dan adopsi digital dalam industri kartu kredit serta kemampuan regulasi dalam
beradaptasi terhadap teknologi keuangan yang berkembang. Berdasarkan
ketidakpastian ini, empat skenario potensial dikembangkan: (1) Golden Age of
Credit Cards, (2) Regulatory Control Positioning, (3) The Bonsai Industry, and
(4) Credit Card Ice Age. Sebagai langkah strategis, penelitian ini mengusulkan
roadmap yang berfokus pada transformasi digital, adaptasi regulasi, mitigasi
risiko, dan inklusi keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan
dan pertumbuhan industri kartu kredit bergantung pada kemampuannya dalam
merangkul kemajuan teknologi, memperkuat keamanan siber, serta menyesuaikan
diri dengan regulasi yang terus berkembang. Rekomendasi utama mencakup
peningkatan integrasi digital, edukasi keuangan bagi konsumen, kolaborasi
antara pelaku industri dan regulator, serta pengembangan solusi kartu kredit
yang berkelanjutan secara lingkungan. Dengan menerapkan langkah-langkah
strategis ini, industri kartu kredit dapat memastikan relevansinya dalam ekonomi
digital Indonesia yang terus berkembang.
Perpustakaan Digital ITB