digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Levina Marchyani
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 1 Levina Marchyani
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 Levina Marchyani
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 Levina Marchyani
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 Levina Marchyani
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 5 Levina Marchyani
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA Levina Marchyani
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PT BES bersama perusahaan induknya sedang mengembangkan teknologi foam pigging dalam rangka mendukung pembersihan dan inspeksi pipa di sektor energi. Saat ini, foam pig yang digunakan masih sepenuhnya bergantung pada pihak eksternal. Kondisi ini membatasi fleksibilitas operasional perusahaan dan menimbulkan risiko keterlambatan serta ketidakpastian ketika kebutuhan muncul pada proyek dengan jadwal yang ketat. Dampak lain yang dirasakan perusahaan adalah sulitnya menjaga konsistensi biaya dan kualitas produk. Selain itu, penggunaan bahan baku impor yang masih dominan membatasi upaya peningkatan pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Permintaan foam pig di Indonesia terus meningkat seiring dengan ekspansi jaringan pipa minyak, gas, dan utilitas. Situasi ini menunjukkan pentingnya bagi PT BES untuk mulai membangun kapabilitas internal dan mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap teknologi eksternal. Dalam melakukan pendekatan analisis, digunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pada analisis kualitatif dilakukan analisis SWOT, IFAS–EFAS, serta matriks risiko. Aspek pengendalian teknologi, proses pembelajaran, dan keberlanjutan operasional digunakan sebagai indikator utama dalam analisis kualitatif untuk menilai kesiapan internal dan kondisi eksternal. Sementara itu, analisis kuantitatif dilakukan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) untuk menguji beberapa parameter seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Cash-on-Cash (CoC) untuk menilai kelayakan finansial. Pada tahap awal, beberapa alternatif akuisisi yang dipertimbangkan yaitu pembelian langsung, lisensi, joint venture, dan transfer teknologi bertahap. Kemudian, karena pemilik formula adalah perorangan, muncul opsi talent acquisition. Berdasarkan keseluruhan hasil kajian, direkomendasikan penerapan strategi kombinasi, di mana talent acquisition digunakan pada tahap awal untuk mendukung pengembangan kapabilitas internal, kemudian dilanjutkan dengan joint venture. Pendekatan ini dinilai lebih sesuai untuk mendukung peningkatan TKDN dalam jangka panjang serta mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap teknologi eksternal.