Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu dari nawa cita pelaksanaan strategis pemerintah Indonesia dalam sektor gizi masyarakat, yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo pada tahun 2025 di bawah naungan Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan alokasi APBN sebesar Rp71 triliun pada tahun pertama, program ini dirancang untuk menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Program ini menjadi tonggak harapan berkurangnya angka stunting yang masih memprihatinkan serta memperkuat kualitas gizi sumber daya manusia dalam jangka panjang. Namun, mempertimbangkan seluruh pembiayaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka penyaluran dana harus tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kaitan dengan audit.
Implementasi awal jelas membuktikan adanya kelemahan dalam mekanisme penyaluran. Pada tahap awal, penyaluran dana disetorkan ke rekening virtual account yayasan mitra, yang menuaungi dapur, untuk kemudian ditransfer ke dapur-dapur penyedia makanan (SPPG). Rantai distribusi yang panjang ini menimbulkan tambahan waktu, perhitungan yang dinilai kurang transparan, serta kendala rekonsiliasi pembayaran. Beberapa dapur atau SPPG sudah mengungkapkan keberatan atas keterlambatan atas pembayaran dana, yang menyebabkan tertertunda atau terhentinya kegiatan operasional sementara. Permasalahan ini merupakan tantangan atas perlunya sistem penyaluran yang lebih efisien dan transparan, yang mampu menjaga akuntabilitas dana publik sekaligus memberi keyakinan kepastian arus kas bagi dapur dan pemasok.
Sebagai mitra perbankan utama, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memperkenalkan Model Penyaluran melalui Virtual Account (VA). Melalui skema ini, setiap SPPG memperoleh nomor VA unik dalam sistem BRI, sehingga dana dari BGN dapat ditransfer langsung dengan rekonsiliasi otomatis dan pencatatan real-time melalui Cash Management System(Qlola). Penelitian ini dilakukan untuk memastikan kebermanfaatan implementasi atas Virtual Account dalam Program Makan Bergizi Gratis serta mengevaluasi tingkat penerimaan para pemangku kepentingan.
Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: pertama, mengkuantifikasi implementasi dampak virtual account dalam hal efisiensi dan transparansi; kedua, mengidentifikasi faktor apa saja yang memberikan kontribusi terhadap keinginan para pengguna menggunakan sistem; dan ketiga, menilai kontribusil dashboard virtual account dalam kaitan fungsi monitoring dan rekonsiliasi pada level institusional. Metode penelitian ini mengaplikasikan pendekatan kombinasi data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap petugas SPPG dengan menggunakan kerangka Technology Acceptance Model (TAM3), yang berfokus pada persepsi kegunaan, kemudahan penggunaan, dan niat perilaku. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan petugas SPPG yang juga mengacu pada TAM3, serta pejabat BGN dengan pendekatan Technology–Organization–Environment (TOE).
Hasil penelitian memberikan keyakinan senada dengan harapan bahwa virtual account dalam penyaluran pemerintah mampu meningkatkan kecepatan penyaluran, mengurangi kesalahan rekonsiliasi, serta memperkuat dalam hal pertanggungjawaban audit. Petugas SPPG menyampaikan bahwa kepercayaan meningkat dalam mengelola transaksi harian, senada dengan hasil survei yang menunjukkan persepsi positif terkait manfaat dan kemudahan dalam menggunakan. Dari sisi kelembagaan, BGN menegaskan bahwa dashboard memperkuat pengawasan keuangan serta meningkatkan akuntabilitas. Secara keseluruhan, penelitian memberikan keyakinan positif bahwa virtual account dapat menjadi solusi efektif secara teknis sekaligus dapat diterima pada level kelembagaan dalam hal ini Badan Gizi Nasional.
Kontribusi penelitian ini adalah memberikan bukti empiris bahwa sistem VA dapat menjadi instrumen keuangan digital yang handal untuk program publik berskala besar. Secara praktis, hasil penelitian merekomendasikan agar mekanisme VA diformalkan ke dalam pedoman operasional MBG, disertai pelatihan pengguna, dukungan teknis, serta strategi perluasan bertahap hingga tingkat nasional. Untuk penelitian selanjutnya, evaluasi dimungkinkan untuk diperluas sampai dengan penerima manfaat langsung (anak sekolah, ibu, dan balita) untuk mengukur dampak sosial, serta memperhatikan implementasi serupa di program sosial pemerintah lainnya.
Dapat kami tarik kesimpulan, perjalanan untuk penyaluran berbasis model penyaluran dengan virtual account telah merubah peta perjalanan penyaluran MBG dari mekanisme manual yang berdampak pada kekecewaan akibat keterlambatan pembayaran menjadi mekanisme baru yang lebih cepat, tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan membuat aliran dana lebih transparan, program MBG dapat menjaga konsistensi dalam pemenuhan makanan bergizi bagi jutaan masyarakat Indonesia dan juga menjaga peran integritas dalam andil aliran dana publik.
Perpustakaan Digital ITB