digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Mikha Easterino Felix
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Sektor seni pertunjukan Kota Bandung menghadapi krisis infrastruktur yang sistemik: Gedung Kesenian Rumentang Siang, gedung teater warisan budaya utama kota sekaligus rumah kreatif Studiklub Teater Bandung (sejak 1958), beroperasi dalam kondisi defisit kapasitas yang terus-menerus, dengan rata-rata 620 penonton per pertunjukan terhadap kapasitas tetap 340 kursi, serta melayani sekitar 78.000 total penonton antara tahun 2023 hingga 2025. Di sisi lain, anatomi bangunan yang berakar pada tipologi bioskop—kedalaman panggung yang dangkal, ketiadaan fly tower, dan kondisi akustik yang menurun—menjadikannya secara teknis tidak mampu menampung produksi proscenium kompleks yang mendefinisikan warisan artistiknya sendiri. Tugas Akhir ini mengusulkan Rumentang Annex: sebuah sarana seni pertunjukan berkapasitas 535 kursi di lahan yang bersebelahan di Jl. Baranang Siang No. 1, Kosambi, Bandung, yang dirancang untuk mengisi kesenjangan venue tingkat menengah yang tidak tersedia di pusat kota Bandung. Desain mengadopsi konsep Distributed Performance Urbanism, yaitu strategi stratifikasi vertikal yang terorganisasi dalam tiga lapisan program: plaza publik permeabel di lantai dasar, zona komunal peralihan yang memuat food court, blackbox theater, ruang ko-kerja, dan perpustakaan, serta inti pertunjukan berupa auditorium proscenium utama dan fasilitas backstage lengkap di lantai atas. Secara filosofis berpijak pada Realisme Tropis—mengacu pada jembatan yang dibangun Suyatna Anirun antara tradisi teater Barat dan identitas budaya Indonesia—bangunan ini dikonsepsikan sebagai Lentera Melayang: massa yang dikantilever dan diangkat di atas pilotis berbentuk-V di atas lantai publik, membebaskan ruang kaki langit dan mempertahankan akses visual terhadap fasad bangunan warisan. Sistem struktur menggunakan grid 7,8 meter dengan kolom 700×700mm yang menopang volume auditorium yang direkayasa untuk mencapai kriteria akustik NC-25 di tengah kebisingan eksternal 85 dB. Kepatuhan regulasi dijaga sesuai Perwali No. 29/2024 (Sub-Zona K-1), dengan KDB 60,2%, KLB 3,57, dan total luas lantai bruto 8.168 m² di atas tanah pada lahan seluas 2.290 m². Proyek ini menunjukkan bahwa infrastruktur seni pertunjukan yang teknis-ketat dapat sekaligus berfungsi sebagai katalis urban yang inklusif, mengintegrasikan ekonomi kreatif, ruang publik, dan warisan budaya dalam jaringan kota Kosambi yang padat dan informal.