digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Annisa Shabrina [27124024]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Perkembangan Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) telah mengubah praktik produksi komunikasi visual di media sosial dengan memungkinkan penciptaan citra yang fotorealistik, cepat, dan ekonomis. Perubahan ini mendorong semakin banyak merek memanfaatkan Gen-AI dalam kampanye digital, termasuk pada sektor perbankan yang sangat bergantung pada kepercayaan publik. Di sisi lain, sebagian besar penelitian mengenai Gen-AI masih berfokus pada aspek teknis, etika, atau dampaknya terhadap kepercayaan konsumen, sedangkan kajian mengenai bagaimana retorika visual Gen-AI dikonstruksi dan direspons oleh khalayak masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis retorika visual Gen-AI pada kampanye literasi finansial OCBC Indonesia di Instagram, serta memahami bagaimana khalayak merespons retorika visual tersebut melalui proses pembacaan dan pemaknaan terhadap teks visual. Penelitian menggunakan paradigma interpretif dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus. Objek penelitian berupa enam visual sampul (cover) kampanye literasi finansial OCBC Indonesia pada fitur carousel Instagram. Analisis tekstual mengadaptasi pendekatan text-interpretive dalam kerangka Visual Rhetoric in Advertising yang dikembangkan oleh McQuarrie dan Mick (1999), yang berada pada ranah semiotika, retorika, dan sastra. Tahap analisis tekstual meliputi text structure, rhetorical figures, dan text interpretation. Kemudian analisis dilengkapi dengan identifikasi karakteristik visual Gen-AI menggunakan konsep photorealism dan visual plausibility. Analisis respons khalayak mengadaptasi perspektif readerresponse dari McQuarrie dan Mick (1999), yang dalam penelitian ini dipahami sebagai proses pembacaan dan konstruksi makna oleh khalayak terhadap retorika visual, bukan sebagai pengukuran efektivitas maupun sikap terhadap iklan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh informan yang dipilih secara purposive dengan variasi latar belakang profesi, pengalaman finansial, dan tingkat literasi terhadap Gen-AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh stimulus menggunakan figur retoris sebagai bentuk artful deviation yang menghubungkan konsep finansial abstrak dengan pengalaman sehari-hari melalui metafora, ironi, hiperbola, dan pelabelan psikologis. Karakter visual Gen-AI yang fotorealistik memungkinkan visual tampak meyakinkan, namun tetap mempertahankan unsur absurditas yang berfungsi menarik perhatian pembaca. Pada tingkat interpretasi, keseluruhan kampanye mereproduksi mitos mengenai individualisasi tanggung jawab finansial, yaitu pandangan bahwa persoalan keuangan diposisikan sebagai tanggung jawab individu yang dapat diatasi melalui pengelolaan diri dan literasi finansial. Temuan ini menunjukkan bahwa Gen-AI tidak hanya berperan sebagai teknologi produksi visual, tetapi juga sebagai perangkat retoris yang memperkuat representasi ideologis dalam komunikasi merek. Respons khalayak menunjukkan bahwa proses pembacaan retorika visual tidak ditentukan semata-mata oleh kemampuan mengenali bahwa visual tersebut dihasilkan oleh Gen-AI, melainkan oleh keterkaitan antara retorika visual dengan pengalaman hidup, shared knowledge, dan konteks generasional pembaca. Humor dan absurditas mendorong pleasure yang membuat pembaca bersedia melanjutkan proses membaca, sedangkan metafora, ironi, dan pelabelan psikologis memicu elaboration melalui pengaitan pesan dengan pengalaman finansial personal. Sebaliknya, ketika istilah, referensi budaya, atau narasi tidak memiliki kedekatan dengan pengalaman pembaca, proses elaborasi cenderung terhambat meskipun visual dinilai menarik secara estetis. Penelitian juga menemukan bahwa asumsi mengenai pengaruh eksposur budaya Tionghoa terhadap respons khalayak tidak terbukti secara signifikan; faktor yang lebih dominan adalah pengalaman sebagai generasi muda yang akrab dengan budaya digital dan isu finansial sehari-hari. Kebaruan penelitian ini terletak pada adaptasi pendekatan text-interpretive dan reader-response ke dalam konteks kampanye literasi finansial berkarakteristik Gen-AI di media sosial. Penelitian ini memperluas penerapan teori retorika visual dari konteks iklan konvensional menuju konten reguler, serta menunjukkan bahwa respons khalayak terhadap retorika visual lebih tepat dipahami sebagai proses pembacaan dan konstruksi makna daripada sebagai ukuran efektivitas komunikasi. Temuan penelitian ini diharapkan memperkaya kajian komunikasi visual, periklanan, dan desain komunikasi visual mengenai penggunaan Gen-AI dalam membangun hubungan antara strategi retoris, pembacaan khalayak, dan pemaknaan visual pada media sosial.