ABSTRAK Misbahullaila
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Kawasan Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor merupakan
wilayah yang berkembang pesat dan tersusun oleh endapan vulkanik dengan
kondisi geologi yang kompleks. Variasi litologi bawah permukaan pada kawasan
tersebut memengaruhi karakteristik hidrogeologi, termasuk keberadaan dan sebaran
akuifer air tanah. Informasi mengenai kondisi bawah permukaan diperlukan sebagai
dasar dalam memahami sistem hidrogeologi serta mendukung pengelolaan sumber
daya air tanah di kawasan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
litologi bawah permukaan serta mengidentifikasi keberadaan dan sebaran akuifer
air tanah menggunakan metode geolistrik tahanan jenis dua dimensi (2D).
Pengukuran geolistrik dilakukan pada enam lintasan menggunakan konfigurasi
Wenner–Schlumberger. Data resistivitas semu diolah melalui proses inversi dua
dimensi menggunakan perangkat lunak RES2DINV sehingga diperoleh model
distribusi resistivitas bawah permukaan. Interpretasi litologi dilakukan berdasarkan
distribusi nilai resistivitas dengan mengacu pada kondisi geologi regional di sekitar
Jatinangor. Selanjutnya, interpretasi hidrogeologi dilakukan melalui pendekatan
integratif dengan memadukan hasil interpretasi geolistrik, data sekunder Self-
Potential (SP), dan Time Domain Electromagnetic (TDEM). Integrasi ketiga
metode tersebut digunakan untuk menghubungkan informasi mengenai litologi bawah permukaan, distribusi resistivitas, arah aliran air tanah, serta sebaran akuifer
sehingga diperoleh interpretasi hidrogeologi yang saling mendukung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan bawah permukaan kawasan Kampus
ITB Jatinangor didominasi oleh endapan vulkanik yang terdiri atas pasir lempungan
hingga lempung pasiran pada lapisan permukaan, pasir tufaan yang mengandung
air pada kedalaman menengah, serta tufa vulkanik terlapukkan pada bagian yang
lebih dalam. Zona dengan nilai resistivitas 9 - 25 ?m diinterpretasikan sebagai pasir
tufaan yang mengandung air dan diidentifikasi sebagai zona akuifer, sedangkan
zona dengan nilai resistivitas kurang dari 9 ?m diinterpretasikan sebagai tufa
vulkanik terlapukkan dengan kandungan air yang relatif tinggi. Zona akuifer
umumnya berkembang pada bagian tengah lintasan dengan kedalaman sekitar 15 -
30 meter dan memperlihatkan kontinuitas lateral yang cukup baik. Hasil integrasi
metode geolistrik, Self-Potential (SP), dan Time Domain Electromagnetic (TDEM)
memperlihatkan kesesuaian dalam menggambarkan karakteristik hidrogeologi
kawasan penelitian, yang ditunjukkan oleh hubungan antara litologi vulkanik, arah
aliran air tanah, dan sebaran zona akuifer. Dengan demikian, integrasi ketiga
metode geofisika tersebut mampu mendukung identifikasi litologi bawah
permukaan serta keberadaan dan sebaran akuifer air tanah di kawasan Kampus ITB
Jatinangor.
Perpustakaan Digital ITB