digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Misbahullaila
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

Kawasan Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor merupakan wilayah yang berkembang pesat dan tersusun oleh endapan vulkanik dengan kondisi geologi yang kompleks. Variasi litologi bawah permukaan pada kawasan tersebut memengaruhi karakteristik hidrogeologi, termasuk keberadaan dan sebaran akuifer air tanah. Informasi mengenai kondisi bawah permukaan diperlukan sebagai dasar dalam memahami sistem hidrogeologi serta mendukung pengelolaan sumber daya air tanah di kawasan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi litologi bawah permukaan serta mengidentifikasi keberadaan dan sebaran akuifer air tanah menggunakan metode geolistrik tahanan jenis dua dimensi (2D). Pengukuran geolistrik dilakukan pada enam lintasan menggunakan konfigurasi Wenner–Schlumberger. Data resistivitas semu diolah melalui proses inversi dua dimensi menggunakan perangkat lunak RES2DINV sehingga diperoleh model distribusi resistivitas bawah permukaan. Interpretasi litologi dilakukan berdasarkan distribusi nilai resistivitas dengan mengacu pada kondisi geologi regional di sekitar Jatinangor. Selanjutnya, interpretasi hidrogeologi dilakukan melalui pendekatan integratif dengan memadukan hasil interpretasi geolistrik, data sekunder Self- Potential (SP), dan Time Domain Electromagnetic (TDEM). Integrasi ketiga metode tersebut digunakan untuk menghubungkan informasi mengenai litologi bawah permukaan, distribusi resistivitas, arah aliran air tanah, serta sebaran akuifer sehingga diperoleh interpretasi hidrogeologi yang saling mendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan bawah permukaan kawasan Kampus ITB Jatinangor didominasi oleh endapan vulkanik yang terdiri atas pasir lempungan hingga lempung pasiran pada lapisan permukaan, pasir tufaan yang mengandung air pada kedalaman menengah, serta tufa vulkanik terlapukkan pada bagian yang lebih dalam. Zona dengan nilai resistivitas 9 - 25 ?m diinterpretasikan sebagai pasir tufaan yang mengandung air dan diidentifikasi sebagai zona akuifer, sedangkan zona dengan nilai resistivitas kurang dari 9 ?m diinterpretasikan sebagai tufa vulkanik terlapukkan dengan kandungan air yang relatif tinggi. Zona akuifer umumnya berkembang pada bagian tengah lintasan dengan kedalaman sekitar 15 - 30 meter dan memperlihatkan kontinuitas lateral yang cukup baik. Hasil integrasi metode geolistrik, Self-Potential (SP), dan Time Domain Electromagnetic (TDEM) memperlihatkan kesesuaian dalam menggambarkan karakteristik hidrogeologi kawasan penelitian, yang ditunjukkan oleh hubungan antara litologi vulkanik, arah aliran air tanah, dan sebaran zona akuifer. Dengan demikian, integrasi ketiga metode geofisika tersebut mampu mendukung identifikasi litologi bawah permukaan serta keberadaan dan sebaran akuifer air tanah di kawasan Kampus ITB Jatinangor.