Penelitian ini menganalisis bagaimana film Siksa Kubur (2024) karya Joko Anwar
mengonstruksi dan mensirkulasikan makna ketakutan yang berakar pada dimensi
religius masyarakat Muslim Indonesia, khususnya kepercayaan terhadap siksa
kubur dan alam barzakh, melalui kerangka Circuit of Culture Stuart Hall (1997).
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual
terhadap 13 dari 55 scene (dipilih melalui criterion dan intensity sampling),
dianalisis pada tingkat shot menggunakan empat unsur sinematik Pratista untuk
mengurai dimensi representasi, yaitu bagaimana ketakutan dibangun melalui
pembatasan akses visual (obstructed view, pencahayaan minim) dan ancaman
auditif tanpa sumber fisik jelas, seperti pertanyaan eskatologis yang berulang tanpa
memperlihatkan wujud penuturnya. Dimensi identitas ditelusuri melalui bagaimana
representasi tersebut menyasar dan membentuk subjek penonton Muslim Indonesia
secara spesifik, sementara dimensi produksi dilihat dari konteks penciptaan film
oleh Joko Anwar sebagai sutradara yang dikenal dengan pendekatan horor berbasis
budaya lokal. Dimensi konsumsi dianalisis melalui video reaksi penonton untuk
melihat bagaimana makna ketakutan tersebut diterima, dimaknai, dan
dinegosiasikan secara personal maupun kolektif, sedangkan dimensi regulasi
ditinjau dari bagaimana norma keagamaan dan sosial turut membingkai batas
representasi yang dianggap pantas maupun yang memicu kontroversi di ruang
publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi sinematik dalam film
menerjemahkan sistem kepercayaan Muslim Indonesia tentang kematian dan
kehidupan setelah mati ke dalam bahasa visual, termasuk melalui pergeseran fungsi
simbol dan ritual keagamaan menjadi ruang trauma personal, yang kemudian
ditegaskan kembali oleh penonton melalui identifikasi personal dan pengalaman
religius. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketakutan dalam Siksa Kubur tidak
berhenti sebagai konstruksi tekstual semata, melainkan terbentuk dan terus
dimaknai ulang melalui keseluruhan sirkuit kelima momen budaya tersebut,
berkontribusi pada kajian representasi dan kebudayaan visual film religi Indonesia
Perpustakaan Digital ITB