digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Diva Getari Dijiwa [27124032]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Penelitian ini menganalisis bagaimana film Siksa Kubur (2024) karya Joko Anwar mengonstruksi dan mensirkulasikan makna ketakutan yang berakar pada dimensi religius masyarakat Muslim Indonesia, khususnya kepercayaan terhadap siksa kubur dan alam barzakh, melalui kerangka Circuit of Culture Stuart Hall (1997). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual terhadap 13 dari 55 scene (dipilih melalui criterion dan intensity sampling), dianalisis pada tingkat shot menggunakan empat unsur sinematik Pratista untuk mengurai dimensi representasi, yaitu bagaimana ketakutan dibangun melalui pembatasan akses visual (obstructed view, pencahayaan minim) dan ancaman auditif tanpa sumber fisik jelas, seperti pertanyaan eskatologis yang berulang tanpa memperlihatkan wujud penuturnya. Dimensi identitas ditelusuri melalui bagaimana representasi tersebut menyasar dan membentuk subjek penonton Muslim Indonesia secara spesifik, sementara dimensi produksi dilihat dari konteks penciptaan film oleh Joko Anwar sebagai sutradara yang dikenal dengan pendekatan horor berbasis budaya lokal. Dimensi konsumsi dianalisis melalui video reaksi penonton untuk melihat bagaimana makna ketakutan tersebut diterima, dimaknai, dan dinegosiasikan secara personal maupun kolektif, sedangkan dimensi regulasi ditinjau dari bagaimana norma keagamaan dan sosial turut membingkai batas representasi yang dianggap pantas maupun yang memicu kontroversi di ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi sinematik dalam film menerjemahkan sistem kepercayaan Muslim Indonesia tentang kematian dan kehidupan setelah mati ke dalam bahasa visual, termasuk melalui pergeseran fungsi simbol dan ritual keagamaan menjadi ruang trauma personal, yang kemudian ditegaskan kembali oleh penonton melalui identifikasi personal dan pengalaman religius. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketakutan dalam Siksa Kubur tidak berhenti sebagai konstruksi tekstual semata, melainkan terbentuk dan terus dimaknai ulang melalui keseluruhan sirkuit kelima momen budaya tersebut, berkontribusi pada kajian representasi dan kebudayaan visual film religi Indonesia